Tarawih: Dari Sunyi Malam Nabi hingga Tradisi Umat yang Menggema

3 Min Read
Tarawih: Dari Sunyi Malam Nabi hingga Tradisi Umat yang Menggema (Ilustrasi)

NOLESKABAR.COM-Ramadhan tak hanya soal menahan lapar. Ia adalah panggung ibadah malam yang menyala. Di situlah shalat tarawih berdiri bukan sekadar rutinitas, melainkan jejak sejarah yang dimulai langsung oleh Muhammad.

Secara bahasa, “tarawih” berarti istirahat. Bukan tanpa alasan. Generasi awal Islam menunaikannya dengan jeda setiap empat rakaat. Malam-malam Ramadhan di Madinah kala itu bukan sunyi yang pasif, melainkan hening yang hidup dipenuhi bacaan Alquran dan kekhusyukan.

Dimulai Nabi, Ditegaskan sebagai SunnahRiwayat sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim mengisahkan: pada beberapa malam Ramadhan, Nabi menunaikan shalat malam di masjid. Para sahabat spontan mengikuti. Malam berikutnya, jamaah membesar. Antusiasme meluap.

Namun pada malam selanjutnya, Nabi tidak keluar mengimami mereka. Bukan karena menghindar, melainkan menjaga prinsip. Beliau khawatir bila praktik itu terus-menerus dilakukan berjamaah, umat mengiranya wajib. Pagi harinya, beliau menjelaskan: tarawih adalah ibadah sunnah. Tegas. Jelas. Tidak dipaksakan.

Di masa beliau, jumlah rakaat yang ditunaikan adalah 11 termasuk witir. Inilah praktik yang berlangsung konsisten sepanjang hayatnya.Era Umar: Jamaah Diperkuat, Esensi DijagaKetika kepemimpinan berada di tangan Umar bin Khattab, tarawih berjamaah dihidupkan kembali secara terorganisir di Masjid Nabawi. Tahun 14 Hijriyah menjadi titik konsolidasi: jamaah disatukan di bawah satu imam agar tidak tercerai-berai.

Yang menarik, tidak ada riwayat sahih yang menunjukkan Umar mengubah jumlah rakaat dari 11 menjadi 20 di Masjid Nabawi. Klaim tentang 20 rakaat sering dikaitkan dengan atsar tertentu, namun bukti kuat bahwa Umar secara resmi mengganti kebijakan itu tidak ditemukan dalam riwayat sahih.

Bahkan pada masa Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, tidak tercatat perubahan mendasar terkait bilangan rakaat tarawih berjamaah di masjid.

Artinya, praktik 11 rakaat memiliki akar historis yang kokoh. Adapun pelaksanaan 20 rakaat oleh sebagian sahabat, jika pun ada, lebih mencerminkan variasi ijtihad bukan standar tunggal yang dipaksakan.

Jangan Terjebak Angka, Pahami RuhnyaPerdebatan 11 atau 20 rakaat sering kali lebih panas daripada makna ibadah itu sendiri. Padahal, tarawih bukan kompetisi kuantitas. Ia adalah ruang memperpanjang sujud, memperdalam tadabbur, dan menguatkan relasi dengan Allah.

Tarawih lahir dari keteladanan Nabi, dipelihara para khalifah, dan diwariskan lintas generasi. Ia bukan beban, bukan pula simbol kesalehan yang dipamerkan. Ia adalah kesempatan.

Kesempatan untuk bangun ketika banyak yang terlelap.

Kesempatan untuk berdiri ketika dunia sibuk dengan urusannya.Kesempatan untuk kembali.

Ramadhan selalu datang dengan pertanyaan yang sama: apakah kita sekadar menjalani, atau benar-benar menghidupi?

Penulis:NL

Share This Article