NOLESKABAR.COM – Shalat tarawih menjadi salah satu ibadah yang paling dinanti umat Islam saat bulan Ramadhan.
Setiap malam setelah salat Isya, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang ingin meraih pahala dan keberkahan di bulan suci.
Sejarah mencatat, shalat tarawih sudah dilaksanakan sejak masa Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa riwayat hadits, Rasulullah SAW pernah melaksanakan tarawih secara berjamaah di masjid.
Namun, beliau kemudian menghentikannya karena khawatir ibadah tersebut diwajibkan kepada umatnya.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam tetap melaksanakan tarawih secara sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil.
Hingga pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab, jamaah dikumpulkan dalam satu imam agar lebih tertib dan khusyuk.
Sejak saat itu, tarawih berjamaah menjadi tradisi yang terus berlangsung hingga sekarang.Dalam praktiknya, jumlah rakaat tarawih berbeda-beda.
Ada yang melaksanakan 8 rakaat ditambah witir, dan ada pula yang menjalankan 20 rakaat. Para ulama menilai perbedaan ini bukan persoalan utama, karena yang terpenting adalah keikhlasan dan kekhusyukan dalam beribadah.
Selain sebagai ibadah sunnah yang berpahala besar, tarawih juga memiliki nilai sosial. Di Indonesia, tarawih menjadi ajang silaturahmi dan mempererat ukhuwah antarwarga.
Anak-anak hingga orang tua berkumpul di masjid, menciptakan suasana Ramadhan yang hangat dan penuh kebersamaan.
Shalat tarawih bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak doa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di bulan penuh ampunan ini, setiap rakaat menjadi kesempatan untuk meraih keberkahan dan pengampunan dosa.
