MAKASSAR, NOLESKABAR.COM- Langit Makassar belum benar-benar terang ketika kabar itu menyebar cepat: seorang polisi muda berpangkat Bripda, berinisial DP, meninggal dunia. Bukan di medan tugas. Bukan saat memburu pelaku kejahatan. Ia ditemukan tak bernyawa di lingkungan asrama polisi di kompleks Polda Sulawesi Selatan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.
Kematian itu menyisakan satu dugaan yang mengguncang: penganiayaan oleh senior.Isu tersebut tak dibiarkan mengambang. Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulsel, Kombes Pol Zulham Effendi, memastikan pihaknya langsung bergerak.
Enam orang telah diperiksa mulai dari rekan satu angkatan (lichting) hingga senior korban. Namun Propam belum menarik kesimpulan. “Belum bisa dipastikan apakah ini pengeroyokan atau bukan,” tegasnya.
Pernyataan itu terdengar hati-hati. Tapi publik menangkap ada sesuatu yang serius tengah diurai.Untuk membongkar tabir penyebab kematian, jenazah DP dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara guna menjalani visum menyeluruh luar dan dalam. Autopsi akan dilakukan jika keluarga memberikan izin.
Pihak Propam menegaskan tak boleh ada yang ditutup-tutupi. Jika ada kekerasan, harus terungkap. Jika ada pelanggaran, harus ditindak.
Di sisi lain, keluarga korban menunggu dengan perasaan campur aduk—antara duka, amarah, dan harapan akan keadilan. Mereka tak hanya kehilangan anak atau saudara, tapi juga kehilangan kepercayaan bahwa asrama, tempat yang semestinya aman bagi aparat negara, bisa berubah menjadi lokasi tragedi.
Kasus ini menampar keras wajah institusi. Dugaan kekerasan internal bukan sekadar soal individu, melainkan menyentuh kultur, relasi senior-junior, dan pola pembinaan di tubuh kepolisian. Jika benar terjadi penganiayaan, maka ini bukan insiden biasa ini alarm.
Propam berjanji profesional dan transparan. Namun janji harus dibuktikan dengan hasil. Publik tak butuh retorika. Publik menunggu kebenaran.
Bripda DP telah pergi. Yang tersisa kini adalah satu pertanyaan besar: apakah kematiannya akan menjadi catatan sunyi di balik pagar asrama, atau menjadi titik balik pembenahan serius di tubuh kepolisian?
Penulis:NL
