JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Kebijakan kontroversial Pemerintah Amerika Serikat yang membekukan pemrosesan visa imigran bagi warga dari 75 negara memicu kekhawatiran besar menjelang Piala Dunia 2026. Turnamen sepak bola terbesar di dunia itu akan digelar pada Juni–Juli 2026 dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko.
Keputusan politik Presiden AS Donald Trump tersebut dinilai berpotensi mengganggu mobilitas penggemar, delegasi, hingga ofisial dari berbagai negara yang ingin menghadiri pesta sepak bola global tersebut. Sejumlah negara yang terdampak antara lain Brasil, Kolombia, Mesir, Ghana, Maroko, Tunisia, Uruguay, hingga Yordania. Sementara negara seperti Irak, Jamaika, dan Republik Demokratik Kongo masih memiliki peluang lolos ke Piala Dunia melalui jalur play-off.
Kebijakan ini diumumkan hanya beberapa bulan sebelum turnamen dimulai, sehingga memunculkan keresahan luas di kalangan penggemar sepak bola dunia.
Sikap Tegas Pemerintah AS
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menegaskan bahwa kebijakan tersebut dilandasi alasan keamanan nasional. Melalui pernyataan di media sosial, ia menekankan bahwa Amerika Serikat tidak ingin membuka pintu bagi pihak asing yang dianggap membahayakan, membebani keuangan negara, atau mengancam hak-hak warga negaranya.
“Negeri ini dibangun dengan pengorbanan besar demi kebebasan, bukan untuk mereka yang merusak dan mengancam keselamatan rakyat Amerika,” tegas Noem.
Pernyataan Resmi FIFA
Menanggapi situasi tersebut, FIFA mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa kepemilikan tiket pertandingan tidak otomatis menjamin akses masuk ke negara tuan rumah.
“Tiket pertandingan tidak menjamin masuk ke negara tuan rumah. Penggemar wajib memeriksa persyaratan masuk masing-masing negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—melalui situs resmi pemerintah,” tulis FIFA.
FIFA juga mengimbau para penggemar untuk mengurus visa dan dokumen perjalanan sedini mungkin, mengingat proses administrasi yang memerlukan waktu panjang.
Sebagai bentuk fasilitasi, FIFA mengumumkan akan menghadirkan FIFA Priority Appointment Scheduling System (FIFA PASS) bagi pemegang tiket yang bepergian ke Amerika Serikat, ketika sistem tersebut mulai diberlakukan dalam beberapa minggu ke depan.
Iran Protes, Boikot Undian Piala Dunia
Iran menjadi salah satu negara yang secara terbuka menyatakan keberatan. Federasi Sepak Bola Iran bahkan memboikot acara undian Piala Dunia di Washington pada Desember lalu, setelah sejumlah delegasinya ditolak visa masuk ke AS.
Juru bicara federasi Iran, Amir Mahdi Alavi, menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan isu olahraga semata, melainkan masalah administratif dan politik yang lebih luas.
Tim Peserta Dijamin, Fans Masih Cemas
Di tengah polemik ini, FIFA memastikan bahwa pemain dan ofisial tim yang lolos kualifikasi tetap dijamin dapat mengikuti turnamen. Wakil Presiden FIFA, Victor Montagliani, menyebut pihaknya telah menerima jaminan dari pemerintah AS, Kanada, dan Meksiko.
“Tim yang lolos kualifikasi akan diizinkan datang dan berpartisipasi,” ujarnya.
Presiden FIFA Gianni Infantino juga menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat akan menyambut dunia selama Piala Dunia berlangsung.
“Siapa pun yang datang untuk menikmati dan merayakan sepak bola akan dapat melakukannya,” kata Infantino.
Meski demikian, jaminan tersebut belum sepenuhnya meredakan kegelisahan, terutama di kalangan penggemar dari negara-negara yang terdampak kebijakan visa, yang kini dihantui ketidakpastian untuk menyaksikan langsung Piala Dunia 2026.
