JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi dan ditutup pada level 8.951,01, turun 1,37% sepanjang pekan lalu. Penurunan ini meninggalkan level psikologis 9.000, yang sebelumnya menjadi perhatian investor.
Tekanan pada IHSG terutama dipicu oleh aksi jual besar-besaran investor asing di saham-saham unggulan. BBCA menjadi sorotan utama dengan net foreign sell Rp 569,5 miliar pada perdagangan terakhir pekan lalu, menekan harga saham ke Rp 7.650, level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Tak hanya BBCA, saham Bumi Resources (BUMI) dan GoTo (GOTO) juga dilepas asing, masing-masing sebesar Rp 1,34 triliun dan Rp 456,9 miliar. Total net foreign sell di seluruh pasar mencapai Rp 3,05 triliun, menunjukkan tekanan signifikan terhadap saham blue chip Indonesia.
Selama tiga hari berturut-turut, IHSG berada di zona merah, mencerminkan sentimen negatif yang meluas hampir di semua sektor. Analis pasar menyebut koreksi ini sebagai sinyal bagi investor untuk lebih berhati-hati dalam melakukan aksi beli.
Meski begitu, rata-rata nilai transaksi harian justru naik 3,59% menjadi Rp 33,85 triliun, menandakan aktivitas pasar tetap tinggi dengan transaksi bernilai besar, meskipun frekuensi transaksi turun 2,66%. Investor besar tampaknya memanfaatkan volatilitas ini untuk melakukan transaksi strategis, membuka peluang bagi investor ritel mengikuti pergerakan saham unggulan.
Para analis menilai aksi jual asing, khususnya pada BBCA, BUMI, dan GOTO, merupakan bentuk profit taking menjelang laporan keuangan kuartal pertama 2026. Investor asing cenderung mengamankan keuntungan dari saham yang sudah menguat dalam beberapa bulan terakhir.
Dengan kondisi pasar yang fluktuatif, para pelaku pasar dianjurkan tetap waspada. Memahami tren aksi asing dan mengatur strategi investasi menjadi kunci untuk mengantisipasi risiko sekaligus memaksimalkan peluang di tengah tekanan pasar.
Editor: Sultoni
