Dua Kapal Diserang di Dekat Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak

3 Min Read
Dua Kapal Diserang di Dekat Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Ketegangan di kawasan Teluk Persia kian memanas setelah sedikitnya dua kapal dilaporkan dihantam proyektil tak dikenal di sekitar Selat Hormuz. Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global.

Dikutip dari BBC, Senin (2/3/2026), Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan satu kapal yang berlayar menuju timur jalur strategis tersebut terkena serangan, sementara kapal lainnya dihantam di lepas pantai Uni Emirat Arab namun dilaporkan masih dapat melanjutkan pelayaran.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas global melintas di perairan sempit tersebut. Iran sebelumnya telah memperingatkan kapal-kapal asing agar tidak melewati kawasan itu menyusul meningkatnya serangan balasan terhadap kepentingan Barat di Timur Tengah.

Platform pelacakan kapal Kpler mencatat sedikitnya 150 kapal tanker kini berlabuh di luar Teluk, menunggu situasi lebih aman sebelum melintas. Meski demikian, beberapa kapal berbendera Iran dan Tiongkok dilaporkan tetap melanjutkan perjalanan.

Analis Kpler, Homayoun Falakshahi, menyebut Selat Hormuz saat ini “praktis tertutup” akibat ancaman keamanan. Ia menambahkan perusahaan pelayaran memilih menahan kapal mereka karena risiko serangan dan lonjakan premi asuransi yang drastis.

Sementara itu, raksasa pelayaran Denmark, Maersk, mengumumkan penghentian sementara rute melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez. Perusahaan tersebut mengalihkan kapal-kapalnya memutari Tanjung Harapan sebagai langkah mitigasi risiko.

Meski UKMTO belum mengidentifikasi kapal yang terdampak, sejumlah sumber keamanan maritim kepada Reuters menyebut sebuah kapal tanker berbendera Kepulauan Marshall mengalami kerusakan di lepas pantai Oman. Televisi pemerintah Iran bahkan mengklaim satu kapal tanker tenggelam karena mencoba melintas secara “ilegal”, namun klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen.

Eskalasi ini terjadi tak lama setelah serangan udara besar-besaran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Serangan tersebut memicu aksi balasan Iran terhadap sejumlah target di kawasan, termasuk laporan serangan udara di Dubai, Doha, Bahrain, dan Kuwait.

Dampak paling cepat terasa di pasar energi. Meski perdagangan resmi Brent crude baru dibuka pada Minggu malam waktu GMT, transaksi over-the-counter menunjukkan harga telah melonjak sekitar 10 persen menjadi 80 dolar AS per barel. Beberapa analis memperingatkan harga dapat menembus 100 dolar AS jika konflik berlarut-larut.

Kelompok produsen minyak OPEC+ yang mencakup Arab Saudi dan Rusia sepakat menaikkan produksi sebesar 206.000 barel per hari guna menahan lonjakan harga. Namun sejumlah pakar meragukan langkah tersebut cukup untuk menstabilkan pasar jika Selat Hormuz benar-benar lumpuh dalam waktu lama.

Gangguan distribusi energi global dinilai hampir tak terhindarkan apabila konflik terus memburuk. Banyak pihak kini menanti langkah militer dan diplomatik berikutnya, sementara dunia bersiap menghadapi potensi krisis energi baru di tengah ketegangan geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Share This Article