Perang Timur Tengah, Iran Minta Maaf ke Tetangga, Tapi Siap Hadapi AS

3 Min Read
Perang Timur Tengah, Iran Minta Maaf ke Tetangga, Tapi Siap Hadapi AS (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah perang antara Iran melawan Israel yang didukung Amerika Serikat memasuki pekan kedua. Di tengah konflik yang terus meluas, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak serangan Iran.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Sabtu (7/3/2026), Pezeshkian mengakui sejumlah serangan balasan Iran sempat mengenai wilayah negara-negara di kawasan tersebut.

“Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran,” ujar Pezeshkian.

Ia menegaskan bahwa Iran tidak berniat menjadikan negara-negara tetangga sebagai target utama serangan. Pemerintah Iran bahkan telah memutuskan untuk menghentikan serangan ke negara tetangga selama tidak ada serangan yang datang dari wilayah mereka.

“Dewan kepemimpinan sementara sepakat bahwa tidak akan ada lagi serangan terhadap negara-negara tetangga dan tidak akan ada rudal yang ditembakkan kecuali serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut,” katanya.

Meski menyampaikan permintaan maaf, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menyerah kepada Amerika Serikat dan Israel. Ia menyebut rakyat Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan militer dari negara mana pun.

“Musuh-musuh Iran harus membawa keinginan mereka untuk penyerahan tanpa syarat rakyat Iran ke kuburan mereka,” tegasnya.

Perang ini dipicu setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut juga menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Sejak saat itu Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke Israel serta sejumlah wilayah yang menjadi lokasi kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Serangan tersebut bahkan sempat berdampak pada beberapa negara tetangga seperti Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait, hingga Turki.

Situasi semakin tegang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan tidak tertarik membuka jalur negosiasi dengan Iran. Trump bahkan menyebut perang dapat berakhir hanya jika Iran tidak lagi memiliki kekuatan militer yang berfungsi maupun kepemimpinan yang tersisa.

“Pada suatu titik mungkin tidak akan ada siapa pun yang tersisa untuk mengatakan ‘kami menyerah’,” kata Trump kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One.

Di tengah konflik yang terus meningkat, kawasan Selat Hormuz juga menjadi titik panas baru. Iran memperingatkan Amerika Serikat yang berencana mengawal kapal-kapal di jalur pelayaran strategis tersebut, yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak terbesar di dunia.

Ketegangan ini memicu kekhawatiran global karena jika konflik terus meluas, dampaknya tidak hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga bisa mengguncang pasar energi dunia.

Editor: Adi

Share This Article