Ahok Buka bukaan di Pengadilan: Mundur dari Pertamina karena Beda Jalan Politik dengan Jokowi

2 Min Read
Ahok Buka bukaan di Pengadilan: Mundur dari Pertamina karena Beda Jalan Politik dengan Jokowi (Ilustrasi)

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Fakta mengejutkan terungkap di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akhirnya blak-blakan soal alasan sebenarnya di balik pengunduran dirinya dari kursi Komisaris Utama PT Pertamina.

Bukan semata urusan teknis atau jabatan, Ahok menegaskan keputusannya mundur dipicu oleh perbedaan pandangan politik dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Pengakuan itu disampaikan Ahok saat menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang, Selasa (27/1/2026). Dalam perkara ini, Kerry Adrianto Riza, anak buron kakap Riza Chalid, duduk di kursi terdakwa.

“Saya keluar karena alasan politik. Beda pandangan dengan Presiden Pak Jokowi,” kata Ahok lugas di hadapan majelis hakim.

Sudah Ingin Mundur Sejak 2023
Ahok mengungkapkan, niat mundur sebenarnya sudah ada sejak akhir Desember 2023. Namun langkah itu tertahan karena ia masih harus menuntaskan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Pertamina 2024.

Masalahnya, pengesahan RKAP oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diwakili Menteri BUMN molor hingga Januari 2024.

“Begitu RKAP disahkan Januari, saya langsung mundur,” ujarnya.

Sebelum angkat kaki, Ahok memastikan meninggalkan catatan penting yang bisa mengubah wajah Pertamina. Ia menegaskan sistem pengadaan baru wajib memberikan efisiensi hingga 46 persen angka yang tak main-main.

Menariknya, seluruh jajaran direksi Pertamina disebut telah menandatangani RKAP tersebut, seolah menyepakati perubahan besar yang digagas Ahok.
“Direksi semua sudah tanda tangan,” tegasnya.

Kasus Raksasa, Kerugian Negara Fantastis
Sidang ini sendiri merupakan bagian dari mega-skandal korupsi sektor energi. Kerry Adrianto Riza didakwa memperkaya diri Rp3,07 triliun dalam kasus yang berlangsung sepanjang 2018–2023.

Tak hanya itu, Kejaksaan Agung menetapkan total 18 tersangka, dengan potensi kerugian negara mencapai Rp285,18 triliun.

Sementara sang ayah, Riza Chalid, hingga kini masih berstatus buronan (DPO).
Retakan Politik di Balik BUMN Strategis?
Pengakuan Ahok memunculkan spekulasi besar:

apakah perbedaan politik di level elite ikut memengaruhi arah kebijakan di BUMN strategis seperti Pertamina.

Yang jelas, pernyataan Ahok di ruang sidang bukan sekadar kesaksian hukum melainkan sinyal retaknya hubungan politik yang selama ini jarang diungkap ke publik.

Share This Article