JAKARTA,NOLESKABAR COM- Gelar sarjana hukum dan kedokteran bisa saja menjadi investasi waktu yang sia-sia, kata Jad Tarifi, mantan eksekutif Google dan pendiri tim AI generatif pertama perusahaan itu, dikutip dari CNBC Indonesia. Pernyataan ini muncul di tengah percepatan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu menyalip jalur pendidikan tradisional.
Tarifi menyoroti bahwa mahasiswa hukum atau kedokteran berisiko menyelesaikan gelar panjang, tetapi memasuki dunia kerja dengan pengetahuan yang sudah ketinggalan zaman. “AI akan menyelesaikan semua yang Anda pelajari saat Anda menuntaskan PhD. Bahkan penerapan AI pada robotika bisa sudah terpecahkan sebelum Anda lulus,” ujarnya.
Menurut Tarifi, pendidikan tradisional terlalu menekankan hafalan dan gelar panjang, sementara inovasi teknologi bergerak jauh lebih cepat. Gelar profesional yang dulunya simbol prestise kini bisa menjadi arsip masa lalu bagi pemegangnya.
Ia menekankan bahwa kesuksesan masa depan lebih ditentukan oleh kemampuan manusia yang tidak bisa ditiru AI, seperti empati, kesadaran emosional, kreativitas, dan keterampilan interpersonal. “Keberhasilan bukan diukur dari panjangnya gelar, tetapi dari seberapa unik perspektif dan interaksi manusiawi Anda,” kata Tarifi.
Pernyataan ini memicu diskusi luas di Silicon Valley tentang relevansi pendidikan tinggi di era AI. Beberapa pemimpin teknologi menilai universitas harus mengadaptasi kurikulum agar lulusan tetap relevan dengan kebutuhan industri yang berubah cepat.
Tarifi mendorong generasi muda untuk mengasah keterampilan manusiawi dan pengembangan diri, daripada sekadar mengejar gelar panjang yang mungkin sudah usang begitu mereka menapaki dunia kerja.
