NOLESKABAR.COM– Setiap umat Islam memiliki kewajiban utama dalam beribadah kepada Allah SWT. Di antara kewajiban tersebut adalah melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat, dan kewajiban lainnya sesuai tuntunan syariat.
Namun, selain amalan yang bersifat wajib, Islam juga menganjurkan berbagai amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW adalah puasa sunnah pada hari Senin dan Kamis.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
كان النبي يتحرى صوم الاثنين والخميس
Artinya: Nabi SAW senantiasa menjaga puasa hari Senin dan Kamis.
(HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Senin dan Kamis bukan sekadar anjuran biasa, melainkan sunnah yang rutin diamalkan oleh Rasulullah SAW sepanjang hidup beliau.
Status Hukum Puasa Senin dan Kamis
Ulama sepakat bahwa hukum puasa Senin dan Kamis adalah sunnah. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu, juz 3 halaman 1641, bahwa:
Puasa Senin dan Kamis bersifat sunnah, artinya apabila dikerjakan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
Meski tidak wajib, Rasulullah SAW sangat konsisten melaksanakannya. Ini menjadi isyarat kuat betapa pentingnya amalan tersebut dalam kehidupan seorang Muslim.
Sebagai umat Islam, sudah sepantasnya kita meneladani Rasulullah SAW. Puasa Senin dan Kamis bukan hanya ibadah jasmani, tetapi juga cerminan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, karena beliau menjaganya dengan penuh kesungguhan.
Hari Disetorkannya Amal Perbuatan
Salah satu keutamaan besar puasa Senin dan Kamis adalah karena pada dua hari tersebut, seluruh amal perbuatan manusia disampaikan kepada Allah SWT.
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, suatu ketika beliau berpuasa di hari Senin dan Kamis meski usianya telah lanjut. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab bahwa Rasulullah SAW melakukan hal yang sama. Saat Nabi SAW ditanya tentang puasa tersebut, beliau bersabda:
إن أعمال العباد تعرض يوم الاثنين ويوم الخميس
Artinya: Sesungguhnya amalan para hamba disampaikan pada hari Senin dan Kamis.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
تعرض الأعمال يوم الاثنين والخميس فأحب أن يعرض عملي وأنا صائم
Artinya: Amal perbuatan manusia disampaikan setiap hari Senin dan Kamis, maka aku ingin amalku diserahkan dalam keadaan aku sedang berpuasa.
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini memberikan pelajaran mendalam bahwa Rasulullah SAW ingin amalnya “naik” kepada Allah dalam kondisi terbaik, yakni saat beliau sedang berpuasa.
Puasa sebagai Pemberi Syafaat
Keutamaan puasa, termasuk puasa sunnah, tidak berhenti pada pahala semata. Puasa juga akan menjadi pemberi syafaat bagi pelakunya di hari kiamat.
Rasulullah SAW bersabda:
يقول الصيام: يا رب منعته الطعام والشهوة بالنهار فشفعني فيه
Artinya: Puasa akan berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah menahannya dari makan dan hawa nafsu di siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa sunnah yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia. Ia akan menjadi saksi, penolong, sekaligus pemberi syafaat bagi orang yang mengamalkannya.
Penutup
Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat Islam mengisi hari Senin dan Kamis dengan ibadah yang dianjurkan, yakni puasa sunnah. Niatkan dengan tulus semata-mata karena Allah SWT dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, sebagai bekal terbaik saat amal perbuatan disetorkan kepada-Nya.
Semoga kita dimudahkan untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW dengan istiqamah menjalankan puasa sunnah Senin dan Kamis.
Penulis: Moh Amin
