JAKARTA, NOLESKABAR.COM– Ketika rupiah mulai meriang dan mendekati suhu Rp17.000 per dolar AS, sebagian warga Indonesia tak menunggu obat dari apotek. Mereka memilih cara yang lebih praktis: memeluk dolar.
Bukan karena cinta, apalagi nasionalisme baru, tapi karena insting bertahan hidup. Dolar kini bukan lagi sekadar mata uang asing, melainkan “selimut hijau” yang dianggap mampu menghangatkan dompet di tengah angin kencang pasar global.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat dana pihak ketiga (DPK) valas tumbuh 3,73%. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin kegelisahan: ketika rupiah batuk, masyarakat langsung menyiapkan vitamin dolar.
Menariknya, meski tabungan dolar meningkat, bunga simpanannya justru menurun. Tingkat bunga penjaminan (TBP) valas tetap di level 2,00%. Artinya, warga menabung dolar bukan demi bunga, tapi demi rasa aman.
“Ini bukan soal untung, ini soal tidur nyenyak,” celetuk seorang banker yang memilih anonim, sembari merapikan grafik dan menenangkan nasabah yang bertanya, “Pak, aman kan kalau simpan dolar?”
Likuiditas Aman, Tapi Pikiran Tidak
Menurut LPS, likuiditas dolar di perbankan masih aman. Bank tidak kekurangan dolar. Namun, pikiran masyarakat tampaknya tidak seaman itu. Dalam imajinasi publik, dolar kembali menjelma jadi pahlawan super: datang dengan jubah hijau, menyelamatkan nilai tabungan dari monster bernama volatilitas.
Di meja makan, obrolan pun berubah. Jika dulu orang bertanya harga cabai, kini topiknya naik kelas: “Dolar hari ini berapa?” Seolah-olah kurs menjadi bumbu dapur baru.
BI, KSSK, dan Obat Penurun Panas
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menegaskan, Bank Indonesia tidak mengejar angka tertentu untuk rupiah. Targetnya sederhana: menurunkan demam volatilitas agar rupiah tidak terlalu sering masuk IGD pasar keuangan.
BI, OJK, dan LPS melalui KSSK kini ibarat tim dokter jaga. Satu memeriksa tekanan darah, satu mengecek suhu, satu lagi memastikan pasien, bernama sistem keuangan, tidak panik dan kabur dari rumah sakit.
Rupiah Sempat Sehat, Tapi Masih Batuk
Rupiah memang sempat menguat ke kisaran Rp16.800 per dolar AS. Namun, seperti pasien yang baru turun panas, batuknya belum hilang. Analis menilai, jika angin global kembali kencang, masyarakat kemungkinan akan kembali menarik selimut dolarnya lebih rapat.
Bukan Sekadar Nabung, Ini Soal Perasaan
Lonjakan tabungan dolar bukan hanya soal angka. Ini soal perasaan. Tentang rasa aman, rasa cemas, dan refleks kolektif menghadapi ketidakpastian.
Jika tren ini terus berlanjut, yang berubah bukan hanya komposisi tabungan, tapi juga cara masyarakat memandang rupiah: bukan sebagai musuh, tapi sebagai teman yang sedang kurang sehat dan butuh waktu untuk pulih.
Sementara itu, dolar tetap berdiri di sudut lemari, siap dipeluk kapan saja. Bukan karena lebih dicintai, tapi karena dalam situasi tertentu, ia dianggap lebih menenangkan.
Editor: Sultoni
