JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Harga minyak dunia melonjak tajam hingga mencatat kenaikan terbesar dalam lebih dari empat dekade. Lonjakan ini dipicu terganggunya pasokan energi global setelah jalur vital pengiriman minyak dunia, Selat Hormuz, praktis tertutup akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026), harga minyak jenis Brent crude oil ditutup di level US$93,34 per barel atau melonjak 9,3%. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik lebih tajam hingga 12,21% dan berakhir di US$90,9 per barel.
Secara mingguan, lonjakan harga WTI mencapai 35,6%. Ini menjadi kenaikan terbesar sejak perdagangan kontrak berjangka minyak dimulai pada 1983 atau sekitar 43 tahun lalu.
Kenaikan tajam tersebut terjadi karena pasar global panik mencari pasokan alternatif setelah pengiriman energi dari Timur Tengah terganggu. Sekitar 20% kebutuhan minyak dunia setiap hari biasanya melewati Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Analis energi dari UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan pelaku pasar kini berlomba mencari sumber minyak baru untuk menutup kekurangan pasokan.
“Perusahaan perdagangan dan kilang sedang berburu pasokan alternatif, dan Amerika Serikat saat ini menjadi salah satu produsen terbesar yang dapat memasok pasar,” ujarnya.
Sementara itu, analis minyak dari Rystad Energy, Janiv Shah, menjelaskan kenaikan harga WTI lebih tinggi dibanding Brent karena aktivitas kilang di wilayah Teluk Amerika Serikat meningkat, ditambah margin penyulingan yang masih menarik bagi eksportir.
Ancaman Harga Minyak Tembus US$100
Sejumlah analis memperingatkan lonjakan harga minyak masih berpotensi berlanjut jika konflik di Timur Tengah tidak segera mereda.
Mitra Again Capital, John Kilduff, menilai skenario terburuk bagi pasar energi mulai terlihat.
“Skenario terburuk sedang berkembang di depan mata. Harga minyak US$100 per barel kemungkinan besar akan menjadi kenyataan,” ujarnya.
Bahkan Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, memperingatkan harga minyak berpotensi melambung hingga US$150 per barel jika negara-negara produsen di kawasan Teluk terpaksa menghentikan ekspor energi akibat konflik.
Lonjakan harga ini bermula setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Teheran kemudian membalas dengan menghentikan pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz, sehingga pengiriman minyak global terhenti.
15 Juta Barel Minyak Terjebak
Penutupan jalur laut tersebut membuat sekitar 15 juta barel produksi minyak mentah per hari tidak dapat keluar dari kawasan Teluk. Selain itu, sekitar 4,5 juta barel bahan bakar hasil penyulingan juga ikut terhambat distribusinya.
Gangguan ini memaksa sejumlah negara produsen mengalihkan minyak ke fasilitas penyimpanan darat maupun kapal tanker di laut. Namun kapasitas penyimpanan tersebut terbatas dan hanya mampu menampung pasokan untuk beberapa hari.
Negara-negara produsen seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Irak bahkan mulai mempertimbangkan pengurangan produksi karena keterbatasan ruang penyimpanan.
Jika kondisi ini berlangsung lama, para analis memperingatkan dunia berpotensi menghadapi krisis energi baru yang bisa mengguncang perekonomian global.
Profesor ekonomi dari Wharton School, Jeremy Siegel, menilai pasar energi sedang berada dalam situasi yang sangat rapuh.
“Jika tidak ada terobosan dalam waktu dekat, harga minyak bisa menyentuh US$100 per barel dalam waktu singkat,” katanya.
Krisis ini juga membalik proyeksi sebelumnya dari Badan Energi Internasional yang sempat memperkirakan pasokan minyak dunia akan surplus pada 2026. Kini pasar justru menghadapi ancaman kekurangan pasokan dalam skala besar.
Editor: Arini
