Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya transformasi kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) agar mampu menghadapi berbagai guncangan global, mulai dari politik hingga ekonomi. Hal itu ia sampaikan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Dalam sambutannya, Nasaruddin mengajak NU untuk mengedepankan konsep “superteam” atau kekuatan kolektif dalam menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, NU tidak cukup hanya mengandalkan figur individual, tetapi harus membangun kerja tim yang solid.
“Sudah waktunya kita lebih menekankan figur-figur manajer yang senantiasa mengedepankan superteam, atau the power of we,” ujar Nasaruddin di hadapan ribuan warga nahdliyin.
Ia menilai, perkembangan dunia saat ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan manusia untuk mempersiapkan diri. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi tantangan besar bagi NU dalam menjaga perannya di tengah masyarakat.
“Tantangan paling konkret adalah masa depan datang lebih awal, lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mempersiapkan diri,” ungkap Nasaruddin.
Akibat dinamika zaman yang begitu pesat, lanjutnya, masyarakat kini menghadapi berbagai bentuk guncangan. “Terjadilah multiple shock. Ada theological shock, cultural shock, political shock, economical shock, bahkan scientifical shock,” katanya.
Menghadapi situasi tersebut, Nasaruddin menegaskan bahwa NU harus mampu beradaptasi dengan membangun kepemimpinan yang kuat sekaligus manajerial. Menurutnya, NU membutuhkan kombinasi pemimpin visioner dan pengelola organisasi yang profesional.
Ia juga mengingatkan bahwa teladan terbaik dalam kepemimpinan dapat dilihat dari Rasulullah SAW. “Nabi bukan hanya menonjol sebagai leader, tapi juga sebagai manajer. Inilah model kepemimpinan yang perlu kita teladani,” tutup Nasaruddin.
