Jurang Upah Terbuka Lebar: Lulusan D4 ke Atas Tembus Rp 4,6 Juta, Mayoritas Pekerja Masih Lulusan SD

3 Min Read
Jurang Upah Terbuka Lebar: Lulusan D4 ke Atas Tembus Rp 4,6 Juta, Mayoritas Pekerja Masih Lulusan SD (Ilustrasi)

NOLESKABAR.COM – Fakta ini menohok. Di saat lulusan Diploma IV hingga strata lanjutan bisa mengantongi rata-rata Rp 4,6 juta per bulan, jutaan pekerja Indonesia masih bertahan dengan gaji di kisaran Rp 2 jutaan karena hanya menamatkan pendidikan dasar.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2025 memperlihatkan pola yang sulit dibantah: pendidikan berbanding lurus dengan penghasilan.Rata-rata gaji pekerja nasional tercatat sekitar Rp 3 jutaan per bulan.

Namun angka itu hanyalah rata-rata statistik. Jika dibedah berdasarkan pendidikan terakhir, kesenjangannya terlihat jelas.Pekerja dengan pendidikan SD ke bawah rata-rata menerima sekitar Rp 2,07 juta. Lulusan SMP berada di kisaran Rp 2,4 jutaan. SMA dan SMK tidak jauh berbeda, masih di bawah Rp 3 juta. Diploma I–III mulai naik mendekati Rp 3,9 juta. Sementara lulusan D4 hingga S3 mencatat rata-rata tertinggi, sekitar Rp 4,6 juta per bulan.

Artinya, selisih penghasilan antara lulusan perguruan tinggi dan lulusan sekolah dasar bisa mencapai lebih dari dua kali lipat.Mayoritas Tenaga Kerja Masih Berpendidikan Rendah ironinya, struktur tenaga kerja Indonesia justru didominasi oleh kelompok berpendidikan rendah. Puluhan juta pekerja hanya menamatkan pendidikan sampai tingkat SD.

Lulusan SMP juga menyumbang porsi besar dalam komposisi angkatan kerja nasional.Ini bukan sekadar angka. Ini potret nyata kualitas sumber daya manusia yang masih timpang. Ketika pasar kerja memberi “hadiah” lebih besar kepada mereka yang berpendidikan tinggi, mayoritas pekerja justru belum berada pada level tersebut.

Situasi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah sistem pendidikan dan kebijakan ketenagakerjaan sudah benar-benar mampu mendorong mobilitas sosial? Atau justru jurang kesejahteraan makin mengeras karena akses pendidikan tinggi belum merata?Usia dan Pengalaman Ikut BerperanSelain pendidikan, faktor usia juga memengaruhi besaran upah.

Kelompok usia menjelang pensiun mencatat rata-rata gaji tertinggi, sementara usia remaja berada di level terendah. Ini menunjukkan pengalaman dan posisi kerja ikut menentukan nilai upah.Namun tetap saja, pendidikan menjadi fondasi awal. Tanpa peningkatan kualitas dan jenjang pendidikan, pekerja akan sulit keluar dari lingkaran upah rendah.

Data ini bukan sekadar statistik tahunan. Ini alarm keras tentang struktur ekonomi dan kualitas tenaga kerja Indonesia. Jika mayoritas pekerja masih berpendidikan rendah, maka kesenjangan upah bukan lagi kemungkinan melainkan kenyataan yang terus berulang.

Share This Article