JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Kalangan ahli menilai virus Nipah sebagai salah satu patogen paling berbahaya yang berpotensi memicu krisis kesehatan di Asia.
Tingkat kematian yang tinggi, kemampuan menular antarmanusia, serta ketiadaan vaksin dan obat spesifik menjadikan virus ini ancaman serius yang tidak boleh dianggap remeh.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa Nipah masuk dalam kelompok penyakit prioritas global yang diawasi ketat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Virus Nipah bukan penyakit biasa. Ia memiliki fatalitas tinggi, potensi wabah besar, dan hingga kini belum ada vaksin maupun terapi khusus,” tegas Prof. Tjandra dikutip dari Liputan6.com. Selasa, 27 Januari 2026.
Menurut para epidemiolog, karakter virus Nipah sangat mengkhawatirkan karena menyerang sistem pernapasan dan sistem saraf, yang dapat memicu radang otak (ensefalitis) dan gagal napas. Kombinasi ini membuat angka kematian Nipah jauh lebih tinggi dibanding banyak penyakit menular lainnya.
Pakar juga mengingatkan bahwa bukti penularan antarmanusia memperbesar risiko terjadinya klaster dan penyebaran lintas wilayah, terutama di negara dengan kepadatan penduduk tinggi dan mobilitas internasional yang aktif.
“Dalam situasi seperti ini, negara tidak boleh menunggu sampai ada korban. Deteksi dini, surveilans aktif, dan kesiapan fasilitas kesehatan harus diperkuat sekarang,” kata seorang epidemiolog Asia Tenggara.
Para ahli menilai bahwa kelemahan utama dalam menghadapi Nipah adalah keterbatasan alat medis. Tanpa vaksin dan obat antivirus spesifik, sistem kesehatan hanya dapat memberikan perawatan suportif, sehingga pencegahan menjadi satu-satunya senjata utama.
Sementara itu, WHO menjelaskan bahwa Penyakit virus Nipah merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan oleh virus Nipah (NiV). Virus ini pertama kali terdeteksi pada babi domestik di Malaysia dan Singapura pada 1998–1999, saat terjadi wabah besar yang memaksa pemerintah memusnahkan lebih dari satu juta ekor babi untuk menghentikan penyebaran penyakit.
Pada hewan, khususnya babi dan kuda, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan gangguan pernapasan serta dalam beberapa kasus gejala saraf. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga menimbulkan risiko besar bagi manusia karena virus ini dapat menular dari hewan ke manusia.
Virus Nipah dikenal memiliki potensi zoonosis yang sangat merusak, mengingat tingkat kematian yang tinggi dan kemampuannya untuk menyebabkan wabah serius. Sejumlah negara di Asia telah melaporkan kejadian wabah virus Nipah, baik pada manusia maupun pada hewan.
Seiring berjalannya waktu, virus Nipah terus menjadi perhatian dunia internasional. Data terbaru mengenai kejadian penyakit ini pada hewan dapat dipantau melalui Sistem Informasi Kesehatan Hewan Dunia, sementara perkembangan kasus pada manusia dipantau melalui Dasbor Darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Para pakar menegaskan bahwa pengawasan ketat, deteksi dini, dan koordinasi lintas negara sangat penting untuk mencegah penyebaran virus Nipah yang lebih luas, mengingat dampaknya yang serius terhadap kesehatan masyarakat dan sektor peternakan.
