JAKARTA, NOLESKABAR.COM– Pergantian pucuk kekuasaan di Iran memicu guncangan geopolitik dunia. Setelah wafatnya Ali Khamenei akibat serangan udara yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel, putranya, Mojtaba Khamenei, resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Agung baru negara tersebut.
Penunjukan tokoh berusia 56 tahun itu langsung mengguncang pasar global. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga menembus US$120 per barel, level tertinggi sejak 2022. Lonjakan tersebut dipicu oleh langkah drastis Teheran yang menutup jalur strategis Selat Hormuz, salah satu nadi distribusi minyak dunia.
Sejumlah analis menilai keputusan Iran menunjuk Mojtaba sebagai penerus bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Mantan Duta Besar Israel untuk AS, Michael Herzog, menyebut langkah itu sebagai sinyal perlawanan terbuka terhadap Barat.
Menurutnya, pemilihan putra Ali Khamenei menunjukkan kesinambungan kekuasaan yang keras. Herzog bahkan menilai Mojtaba kemungkinan membawa dendam besar terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian ayahnya.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga langsung bereaksi keras. Ia mengaku sangat kecewa dengan sosok pemimpin baru Iran tersebut dan meragukan peluang perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Di balik pengangkatannya, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang jauh lebih keras dibandingkan ayahnya. Lahir di kota suci Mashhad, ia telah bersentuhan dengan politik radikal sejak remaja ketika Revolusi Iran 1979 mengguncang negara itu.
Pengaruhnya semakin kuat setelah bergabung dengan Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC pada akhir 1980-an, saat perang Iran–Irak masih berkecamuk. Kedekatan dengan elite militer itulah yang kemudian menjadi fondasi kekuasaannya di balik layar selama puluhan tahun.
Meski tidak memiliki gelar keagamaan tradisional yang kuat, Mojtaba dikenal memiliki pengaruh besar dalam lingkar kekuasaan Teheran. Namanya bahkan pernah disebut berada di balik tindakan keras terhadap demonstrasi Green Movement pada 2009.
Kenaikan Mojtaba juga dibayangi tragedi pribadi yang sangat dalam. Laporan pemerintah Iran menyebutkan bahwa serangan udara pada 28 Februari tidak hanya menewaskan Ali Khamenei, tetapi juga merenggut nyawa ibu, istri, dan anak Mojtaba.
Para analis menilai luka pribadi tersebut dapat memperkeras sikap politik Iran ke depan. Mantan penasihat Timur Tengah di Departemen Pertahanan AS, Jasmine El-Gamal, memperkirakan kepemimpinan Mojtaba berpotensi memicu eskalasi militer yang lebih besar.
Selain dikenal sebagai tokoh keras, Mojtaba juga sering disebut sebagai “penjaga gerbang kekuasaan” Iran. Selama bertahun-tahun ia bekerja di balik layar, mengoordinasikan hubungan antara kantor pemimpin agung, intelijen, dan elite militer.
Kontroversi lain datang dari dugaan manipulasi politik. Pada pemilu Iran 2005 dan 2009, sejumlah kelompok reformis menuduh Mojtaba ikut mempengaruhi kemenangan kandidat konservatif seperti Mahmoud Ahmadinejad.
Tak hanya soal politik, laporan investigasi juga mengungkap sisi lain dari kehidupan Mojtaba. Di balik citra kesederhanaan yang sering ditampilkan pemerintah Iran, ia diduga memiliki jaringan bisnis dan properti mewah di berbagai negara.
Aset tersebut disebut mencakup hunian elit di kawasan Billionaire’s Row London, vila mewah di Dubai, serta kepemilikan hotel di kota-kota besar Eropa seperti Frankfurt dan Mallorca.
Sebagian aset tersebut diduga disembunyikan melalui jaringan perusahaan cangkang dan perantara. Nilainya diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS.
Kini, dengan Mojtaba Khamenei resmi memegang kendali tertinggi Iran, dunia menanti arah baru politik Teheran. Apakah kepemimpinan baru ini membuka jalan diplomasi atau justru memperdalam konflik global, pertanyaan itu mulai menghantui panggung geopolitik dunia.
