AS Longgarkan Sanksi Minyak Rusia, Eropa Khawatir Perang Ukraina Kian Panjang

4 Min Read
AS Longgarkan Sanksi Minyak Rusia, Eropa Khawatir Perang Ukraina Kian Panjang (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah keputusan Amerika Serikat melonggarkan sebagian sanksi terhadap penjualan minyak Rusia. Kebijakan ini memicu kritik keras dari sejumlah pemimpin Eropa yang menilai langkah tersebut berpotensi memperpanjang konflik antara Rusia dan Ukraina.

Dilansir dari laporan BBC, Jumat (13/3), keputusan Washington untuk memberi kelonggaran sementara pada penjualan minyak Rusia langsung menuai respons tajam dari para pemimpin Eropa. Mereka khawatir tambahan pemasukan bagi Moskow justru memperkuat kemampuan perang Rusia di Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai kebijakan tersebut tidak membantu upaya perdamaian. Dalam konferensi pers di Paris setelah bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron, Zelensky menegaskan bahwa keputusan Amerika Serikat bisa memberikan keuntungan ekonomi besar bagi Rusia.

Menurut Zelensky, pelonggaran sanksi itu saja diperkirakan bernilai sekitar 10 miliar dolar AS bagi Moskow. Tambahan pendapatan tersebut, kata dia, berpotensi memperkuat mesin perang Rusia di tengah konflik yang masih berlangsung sengit.

Sejumlah pemimpin Eropa juga menyuarakan kritik serupa. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan tidak ada alasan yang dapat membenarkan pelonggaran sanksi tersebut. Sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut keputusan itu sebagai langkah yang keliru.

Kritik juga datang dari Presiden Dewan Uni Eropa Antonio Costa yang menyebut kebijakan Washington sangat mengkhawatirkan. Para pemimpin Eropa menilai peningkatan penjualan minyak Rusia akan menambah pemasukan negara itu, yang kemudian dapat digunakan untuk membiayai operasi militer di Ukraina.

Sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa telah menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi kepada Moskow. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump bahkan sebelumnya memberlakukan tekanan terhadap negara-negara yang membeli minyak Rusia, termasuk konsumen besar seperti India.

Namun situasi global berubah setelah konflik besar di Timur Tengah meningkatkan ketidakstabilan pasar energi dunia. Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat pasokan energi global terguncang sehingga mendorong Washington mengambil langkah pelonggaran sementara terhadap sanksi minyak Rusia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan bahwa sanksi terhadap minyak Rusia yang sudah berada di kapal tanker di laut akan ditangguhkan sementara. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pasar energi global yang sedang bergejolak.

Di sisi lain, kondisi ekonomi Rusia sendiri sempat berada di bawah tekanan akibat sanksi internasional. Moskow bahkan dilaporkan harus menjual sebagian cadangan emas serta menaikkan pajak konsumsi untuk menutup kebutuhan anggaran negara.

Meski demikian, tambahan pemasukan dari penjualan minyak berpotensi memberi napas baru bagi ekonomi perang Rusia. Dengan dana lebih besar, Kremlin diperkirakan mampu membeli lebih banyak persenjataan serta mempertahankan operasi militer di garis depan.

Bagi Ukraina, situasi ini datang pada saat yang sangat sulit. Negara tersebut baru saja melewati musim dingin yang berat dan masih menghadapi tekanan militer di berbagai wilayah. Selain itu, bantuan dana Uni Eropa senilai 90 miliar euro juga mengalami penundaan akibat perselisihan politik dengan Hungaria.

Kekhawatiran terbesar para pemimpin Eropa adalah jika pelonggaran sanksi ini berubah dari kebijakan sementara menjadi permanen. Jika itu terjadi, tekanan ekonomi terhadap Rusia bisa melemah dan peluang tercapainya kesepakatan damai dikhawatirkan semakin kecil.

Para sekutu Barat pun kini terpecah dalam strategi menghadapi Rusia. Sebagian negara ingin mempertahankan tekanan ekonomi maksimal terhadap Moskow, sementara kebijakan terbaru Washington justru menunjukkan arah yang berbeda.

Editor: Sukri

Share This Article