NOLESKABAR.COM – Jakarta – Ceker ayam selama ini lebih sering jadi bahan candaan ketimbang bahan pangan yang dihargai. Banyak orang membuangnya karena dianggap tak berdaging dan kurang menarik.
Namun di balik tampilannya, bagian ayam ini menyimpan kandungan kolagen tinggi yang justru diburu dalam bentuk suplemen mahal.Dalam takaran sekitar 70 gram atau dua potong ceker ayam, terkandung sekitar 150 kalori dan 14 gram protein.
Menariknya, sebagian besar protein tersebut berasal dari kolagen—zat yang sering diklaim sebagai “rahasia awet muda” oleh industri kecantikan dan kesehatan.Kolagen sendiri adalah protein struktural penting yang menopang kulit, sendi, tulang, hingga jaringan ikat. Produksi alaminya menurun seiring usia.
Di titik inilah suplemen kolagen menjamur di pasaran dengan harga yang tidak murah. Padahal, sumber alaminya tersedia di dapur dan sering dianggap remeh.Kulit Kenyal Tak Harus Mahal?Kolagen berperan menjaga elastisitas dan kelembapan kulit. Ketika kadarnya cukup, kulit cenderung tampak lebih kenyal dan tidak mudah kering.
Sejumlah penelitian juga mengaitkan konsumsi kolagen dengan perbaikan tekstur kulit serta pengurangan garis halus.Paparan sinar ultraviolet (UV) dan faktor usia mempercepat munculnya kerutan. Asupan kolagen dari makanan seperti ceker ayam disebut dapat membantu mempertahankan struktur kulit, meski tentu bukan solusi instan seperti yang kerap dijanjikan iklan.
Selulit dan Rambut Rontok, Isu selulit dan rambut rontok sering dijadikan pasar empuk produk kecantikan. Kolagen membantu memperkuat jaringan ikat di bawah kulit serta mendukung pembentukan keratin—protein utama rambut dan kuku. Hasilnya, rambut lebih kuat dan kuku tidak mudah rapuh, selama dikonsumsi dalam pola makan seimbang.
Sendi dan Tulang Ikut TerjagaTak hanya soal penampilan, kolagen juga berperan dalam fleksibilitas sendi dan kekuatan tulang. Beberapa studi menunjukkan asupan kolagen dapat membantu mengurangi keluhan nyeri sendi, terutama pada usia lanjut atau individu dengan aktivitas fisik tinggi.
Ceker ayam juga mengandung mineral seperti kalsium dan fosfor dalam jumlah kecil, yang turut mendukung kesehatan tulang. Murah, Tapi Sering Diabaikan Ironisnya, saat produk kolagen instan dipromosikan secara masif dengan embel-embel modern dan praktis, sumber alami seperti ceker ayam justru dipinggirkan.
Padahal, diolah menjadi sup atau hidangan berkuah, ceker ayam bisa menjadi alternatif pemenuhan kolagen yang lebih ekonomis. Namun, penting dicatat: konsumsi tetap harus dalam batas wajar. Cara pengolahan yang berlebihan misalnya, digoreng dengan minyak banyak atau dibumbui tinggi garam justru bisa mengurangi nilai kesehatannya.
Di tengah gempuran tren suplemen, mungkin sudah saatnya publik menilai ulang bahan pangan lokal yang selama ini diremehkan. Ceker ayam bukan sekadar sisa potongan, melainkan sumber nutrisi yang layak dipertimbangkan secara rasional, bukan sekadar ikut arus iklan.
