JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Indonesia kembali menjadi sorotan dunia. Berdasarkan Global Fraud Index 2025, Indonesia menempati posisi kedua negara dengan tingkat perlindungan penipuan terendah. Artinya, warga RI termasuk yang paling rentan jadi korban penipuan.
Mayoritas modus yang digunakan adalah social engineering. Penipu memanipulasi psikologi korban, membuat mereka tanpa sadar menyerahkan akses atau informasi penting, yang ujung-ujungnya rekening terkuras habis. Lebih dari 70% kasus penipuan di Indonesia memakai trik ini.
Teguh Arifiyadi, Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi, menekankan bahwa literasi digital adalah kunci. “Tidak soal pendidikan tinggi atau rendah, bisa profesor, dokter, banyak yang kena juga. Ini soal kebiasaan,” tegas Teguh. Dikutip Senin, (16/2/2026).
Parahnya, pemerintah mengaku masih harus bekerja keras. Saat ini berbagai sistem dan lembaga sedang dikonsolidasikan. Mulai dari OJK, sistem IGC, layanan pencegahan Komdigi, hingga dukungan Polri dan sektor swasta. Semua dilakukan supaya warga lebih terlindungi.
Meski upaya sudah ada, kenyataannya masih jauh dari aman. Penguatan regulasi sangat dibutuhkan. Verifikasi nomor seluler, tanda tangan digital, dan verifikasi pengguna layanan pemerintah menjadi fondasi.
“Ekosistem bagus itu kalau verifikasinya benar,” tegas Teguh.
Global Fraud Index mengukur 112 negara berdasarkan empat pilar. Aktivitas fraud, akses sumber daya, intervensi pemerintah, dan kesehatan ekonomi. Hasilnya mengejutkan. Negara dengan perlindungan terbaik adalah Luxembourg, Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Belanda. Negara paling rawan adalah Pakistan, Indonesia, Nigeria, India, dan Tanzania.
Bayangkan, Indonesia hampir berada di dasar klasemen dunia, hanya di atas Pakistan. Peluang warga jadi korban penipuan sangat tinggi. Semua orang, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga profesional top, bisa tertipu.
Tren ini menunjukkan masalah serius. Literasi digital rendah, warga terlalu mudah percaya, dan penipu semakin cerdik. Social engineering memanfaatkan psikologi manusia, bukan sekadar celah teknologi. Hati-hati, dompet bisa hilang dalam sekejap.
Indonesia kini harus berlari kencang. Edukasi warga, sistem verifikasi, dan regulasi ketat harus berjalan bersamaan. Jika tidak, posisi RI di daftar penipuan dunia bisa terus menurun, korban semakin banyak, dan kerugian ekonomi meluas.
Kesimpulannya, jangan anggap enteng. Social engineering bukan mitos. Dompet bisa terkuras, data dicuri, identitas dipermainkan. Indonesia mungkin negara tropis, tapi di dunia digital, warganya termasuk yang paling rentan.
Warga wajib waspada. Jangan mudah percaya SMS, telepon, atau email mencurigakan. Pastikan semua transaksi diverifikasi, jangan mudah tergiur hadiah palsu, jangan beri akses data pribadi kepada siapa pun. Di dunia digital, kecerdikan penipu jauh lebih cepat daripada literasi masyarakat.
Jika pemerintah dan warga tidak bersatu, Indonesia akan terus menduduki posisi atas daftar penipuan global. Fakta ini mengelitik, mengingat negara kita kaya teknologi tapi warga masih jadi korban termudah. Waspada adalah satu-satunya cara bertahan.
Penulis: Arini
