JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Pemerintah semakin serius menyiapkan generasi muda Indonesia agar tangguh menghadapi ancaman dunia digital. Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), berbagai program pelatihan kini digencarkan untuk membekali anak muda dengan kemampuan keamanan siber dan kecerdasan buatan (AI) secara bersamaan.
Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, menyatakan bahwa penguatan talenta digital menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya risiko serangan siber. Salah satu program unggulan yang tengah dikembangkan adalah AI Talent Factory, yang fokus mencetak sumber daya manusia unggul di bidang teknologi.
“Kita memperkuat pengembangan talenta dalam satu program terintegrasi bernama AI Talent Factory. Saat ini sudah bekerja sama dengan Universitas Brawijaya, dan akan menyusul ITS, UGM, serta kampus lainnya,” ujar Nezar dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Selain itu, Komdigi juga mengoptimalkan pelatihan melalui balai-balai SDM digital serta program Digital Talent Scholarship. Dalam program ini, modul keamanan siber dan AI dimasukkan secara khusus agar peserta memiliki pemahaman komprehensif.
Menurut Nezar, langkah tersebut penting karena ancaman digital saat ini semakin kompleks dan menyasar kehidupan pribadi masyarakat. Serangan siber tidak lagi hanya menargetkan institusi besar, tetapi juga perangkat pribadi seperti ponsel dan laptop.
“Skala serangan sekarang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan bertahan kita. Ini tentu cukup mengkhawatirkan dan harus segera diantisipasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, penyalahgunaan AI turut mempercepat pola serangan siber, mulai dari penipuan digital, peretasan akun, hingga pencurian data. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi kunci utama pertahanan nasional di ruang siber.
Untuk melindungi masyarakat, pemerintah juga menggalakkan kampanye kesadaran keamanan digital. Masyarakat diimbau menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi ganda, serta memanfaatkan fitur keamanan tambahan yang tersedia di berbagai platform.
“Kita terus menyebarkan awareness agar publik menggunakan gadget secara aman, memakai password yang lebih kompleks, multi-factor authentication, bahkan kunci fisik yang mulai digunakan sejumlah platform,” kata Nezar.
Selain dari sisi pengguna, pemerintah mendorong pengembang platform digital menerapkan konsep security by design sejak tahap awal perancangan sistem. Menurut Nezar, aspek keamanan tidak boleh menjadi tambahan belakangan, melainkan fondasi utama dalam setiap produk digital.
“Sejak awal, mereka harus melakukan review ketahanan siber dan mematuhi standar baru di tengah dinamika AI yang sangat cepat,” pungkasnya.
Pengamat teknologi digital, Rudi Hartono, menilai program ini sebagai langkah strategis pemerintah. Menurutnya, kolaborasi dengan kampus dan industri dapat mempercepat lahirnya talenta digital yang kompeten.
“Kalau dijalankan konsisten, AI Talent Factory bisa menjadi tulang punggung keamanan siber nasional. Anak muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penjaga keamanan digital bangsa,” ujarnya.
