Rupiah Tembus Rp 17.127 per Dolar, Pengusaha Mulai Teriak Biaya Impor Naik

2 Min Read
Rupiah Tembus Rp 17.127 per Dolar, Pengusaha Mulai Teriak Biaya Impor Naik (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Nilai tukar rupiah kembali tertekan. Pada perdagangan Selasa (14/4/2026), rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.127 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,13 persen atau 22 poin berdasarkan data Bloomberg.

Pelemahan ini langsung terasa di dunia usaha. Pelaku industri menilai, lonjakan kurs dolar mulai menekan biaya produksi, terutama sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, mengakui kondisi ini memberi tekanan berbeda bagi pelaku usaha.

“Ya pasti terasa. Yang impor akan tertekan, yang ekspor mungkin diuntungkan. Tapi ini harus diantisipasi,” ujarnya. Selasa (14/4).

Menurutnya, rupiah yang melemah memang bisa menarik minat investasi, terutama sektor berbasis ekspor. Namun, ia mengingatkan ada risiko yang ikut mengiringi, yakni naiknya ongkos produksi di dalam negeri.

“Rupiah lemah bisa bikin kita atraktif untuk investasi, tapi jangan sampai biaya produksi jadi makin mahal,” katanya.

Bob juga menyoroti masih banyaknya transaksi dan layanan domestik yang menggunakan dolar AS, termasuk di pelabuhan. Kondisi ini dinilai membuat pelaku usaha semakin terbebani saat rupiah melemah.

“Di beberapa sektor masih pakai USD, ini yang harus dibenahi,” tegasnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan potensi tekanan ketenagakerjaan yang mulai terasa akibat kondisi global dan derasnya produk impor.

“Kekhawatiran soal PHK itu sudah mulai terjadi,” ungkapnya.

Bob menegaskan perlunya langkah cepat pemerintah untuk menjaga daya serap tenaga kerja, sekaligus memperkuat industri dalam negeri agar tidak kalah bersaing dengan produk impor.

“Yang penting sekarang bagaimana pekerja yang terdampak bisa cepat terserap lagi. Dan industri lokal harus lebih dilindungi,” katanya.

Share This Article