Rupiah Melemah ke Rp16.949 per Dolar AS, Harga Minyak Dunia Tembus US$92 per Barel

4 Min Read
Rupiah Melemah ke Rp16.949 per Dolar AS, Harga Minyak Dunia Tembus US$92 per Barel (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Senin (9/3/2026). Mata uang Garuda itu ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat di level Rp16.949 per dolar AS.

Posisi tersebut turun sekitar 24 poin dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di kisaran Rp16.925 per dolar AS. Pelemahan ini menunjukkan rupiah masih menghadapi tekanan kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sepanjang sesi perdagangan, pergerakan rupiah bahkan sempat mengalami tekanan yang lebih dalam. Nilai tukar sempat melemah hingga sekitar 70 poin sebelum akhirnya menutup perdagangan di kisaran Rp16.949 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal. Salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar adalah lonjakan harga minyak dunia yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Harga minyak global saat ini berada di kisaran 92 dolar AS per barel. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak tahun 2020 dan jauh melampaui asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2026.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak ini berpotensi menimbulkan tekanan tambahan pada anggaran negara. Jika harga minyak terus meningkat hingga mendekati 100 dolar AS per barel, defisit anggaran negara diperkirakan dapat melebar cukup signifikan.

Ia memperkirakan kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN yang berada di level 70 dolar AS per barel dapat menambah defisit anggaran hingga sekitar Rp6,8 triliun. Bahkan jika harga terus meroket, defisit terhadap produk domestik bruto (PDB) berpotensi mendekati 4 persen.

Selain faktor energi, situasi geopolitik global juga menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan udara yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap sejumlah fasilitas minyak milik Iran.

Serangan tersebut kemudian memicu respons keras dari Teheran. Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan dengan menargetkan beberapa lokasi strategis, termasuk kapal-kapal yang melintas di jalur penting perdagangan minyak dunia.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian pasar adalah Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia diketahui melewati jalur tersebut, sehingga setiap gangguan keamanan langsung memicu kekhawatiran pasar energi.

Ketidakpastian juga bertambah dengan dinamika politik di Iran. Negara tersebut kini dipimpin oleh Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi. Pergantian kepemimpinan ini dinilai menandakan kelompok garis keras masih memiliki pengaruh kuat dalam pemerintahan Iran.

Selain faktor geopolitik, perkembangan ekonomi di kawasan Asia juga turut memberi pengaruh terhadap pergerakan pasar keuangan. Inflasi konsumen di China tercatat naik menjadi 1,3 persen secara tahunan pada Februari 2026.

Angka tersebut melampaui perkiraan pasar yang sebelumnya berada di kisaran 0,9 persen. Kenaikan inflasi di China terutama dipicu meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode libur Tahun Baru Imlek.

Meski demikian, tekanan di sektor produsen masih menunjukkan kontraksi. Kondisi ini menunjukkan pemulihan ekonomi China belum sepenuhnya stabil.

Ibrahim menilai pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Salah satunya dengan meningkatkan efisiensi anggaran dan memprioritaskan belanja pada sektor yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga didorong mempercepat pengembangan energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan terhadap minyak impor. Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko ekonomi akibat gejolak harga energi global.

Ia juga menyarankan agar pemerintah memperkuat stimulus ekonomi melalui deregulasi dan penyederhanaan birokrasi. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong aktivitas investasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi domestik.

Untuk perdagangan Selasa (10/3/2026), rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Nilai tukar rupiah diprediksi berada di kisaran Rp16.950 hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS, seiring dengan masih kuatnya tekanan dari pasar global.

Editor: Arini

Share This Article