SUMATERA SELATAN, NOLESKABAR.COM – Rasa bersalah dan ketakutan terus menghantui Andi (38). Lima hari setelah membunuh rekan kerjanya sendiri, pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Plaju itu akhirnya menyerahkan diri ke polisi.
Andi datang ke Polsek Ilir Barat I, Palembang, pada Selasa (29/1/2026) Wajahnya gelisah. Tidurnya tak pernah nyenyak sejak peristiwa tragis yang merenggut nyawa WU (50), rekan kerjanya yang sehari-hari bekerja sebagai pencuci ompreng.
Peristiwa bermula saat Andi hendak mengembalikan terpal pinjaman ke Desa Gaung Asam, Kecamatan Belida, Kabupaten Muara Enim. Tanpa diduga, korban memaksa ikut dan membonceng menggunakan sepeda motor milik korban.
Dalam perjalanan, Andi mengaku merasa sangat tidak nyaman. Tubuhnya terus dipeluk korban, sementara ia telah berkeluarga. Perasaan tertekan dan emosi yang memuncak membuat Andi kehilangan kendali.
Ia menghentikan motor di tengah jalan, menjegal korban, lalu mencekik leher korban menggunakan kerudung yang dikenakan WU hingga korban meninggal dunia.
Usai kejadian, jasad korban ditinggalkan di semak-semak bekas kebun nanas di Desa Gaung Asam. Andi kemudian pulang ke Palembang menggunakan travel, meninggalkan sepeda motor korban di wilayah Lembak, Muara Enim.
Penemuan jasad perempuan tanpa identitas pada Selasa sore sempat menggegerkan warga setempat.
“Iya, benar. Kemarin sore ada penemuan mayat perempuan tanpa identitas di semak-semak bekas kebun nanas warga,” kata Kapolsek Lembak Iptu Yopi Maswan, dikutip dari Tempo.
Tak Kuat Menanggung Rasa Bersalah
Menurut pengakuannya, Andi sebenarnya sudah berniat menyerahkan diri sejak awal. Namun rasa takut membuatnya menunda.
“Saya memang berniat menyerahkan diri, Pak. Tapi belum berani. Setiap hari saya tidak tenang karena tahu risikonya,” ujar Andi, dikutip dari IDN Times Sumsel.
Kini, Andi telah diserahkan ke Satreskrim Polres Muara Enim untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku.
