Wall Street di Persimpangan Risiko: Inflasi Jinak, AI Mengintai

4 Min Read
Wall Street di Persimpangan Risiko: Inflasi Jinak, AI Mengintai (Ilustrasi)

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Pasar saham Amerika Serikat bergerak fluktuatif pada Jumat (13/2/2026), mencerminkan ketidakpastian investor di tengah data inflasi yang melandai dan kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) pada sektor teknologi.

Indeks S&P 500 ditutup sedikit lebih tinggi 3,41 poin (0,05%) menjadi 6.836,17, sedangkan Nasdaq Composite melemah 50,48 poin (0,22%) menjadi 22.546,67. Dow Jones Industrial Average naik 48,95 poin (0,10%) menjadi 49.500,93.

Sepanjang pekan, ketiga indeks utama mencatat penurunan signifikan. Saham teknologi mengalami tekanan karena investor menilai potensi gangguan dari AI dan besarnya biaya yang dibutuhkan perusahaan untuk mendukung pengembangan teknologi. Sektor perangkat lunak dan layanan komunikasi bergerak ekstrem, seperti “roller-coaster”, seiring ketidakpastian terkait laba dan dampak kompetisi AI.

Perdagangan hari itu dimulai dengan optimisme setelah data inflasi Januari menunjukkan kenaikan harga konsumen lebih rendah dari perkiraan. Hal ini meningkatkan probabilitas pemotongan suku bunga 25 basis poin pada Juni menjadi 52,3%, menurut alat FedWatch CME Group, dibanding sebelumnya 48,9%.

Meski demikian, saham teknologi besar dan layanan komunikasi menutup sesi melemah, karena investor bersikap hati-hati menjelang libur Presidents Day. Kekhawatiran mendasar adalah sejauh mana AI dapat mengganggu model bisnis perusahaan dan tekanan investasi yang meningkat.

Michael James, Managing Director Rosenblatt Securities, Los Angeles, mengatakan:

“Saham teknologi berkapitalisasi besar terus menjadi jangkar pasar. Setiap sinyal optimisme cenderung ditolak. Pasar bergerak di atas kaki yang goyah menjelang akhir pekan panjang.”

Secara mingguan, S&P 500 turun 1,39%, Nasdaq turun 2,1%, dan Dow turun 1,23%, menandai kerugian mingguan terbesar sejak November 2025. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran investor terhadap AI dan volatilitas teknologi masih menjadi faktor dominan di pasar.

Namun, beberapa sektor defensif menunjukkan performa kuat. Utilitas naik 2,69%, real estate bertambah 1,48%, dan sektor kesehatan mencatat kenaikan signifikan, dengan saham Dexcom naik 7,6% dan Moderna naik 5,3% setelah laporan laba kuartal keempat mengejutkan pasar. Applied Materials melonjak 8,1% setelah memproyeksikan pendapatan kuartal kedua di atas ekspektasi, sementara Arista Networks naik 4,8%.

Phil Orlando, Chief Market Strategist di Federated Hermes, memperingatkan bahwa volatilitas diperkirakan akan berlanjut. Investor menghadapi kombinasi risiko: pemilu paruh waktu AS, pergantian Ketua Federal Reserve, dan tekanan inflasi global. Secara historis, transisi kepemimpinan Fed pada tahun pemilu memicu koreksi “dua digit” pada indeks utama.

Volume perdagangan hari itu mencapai 18,61 miliar saham di seluruh bursa AS, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir. Di NYSE, saham yang naik lebih banyak dibanding turun dengan rasio 2,57:1, sementara di Nasdaq, rasio saham naik terhadap turun 1,92:1.

Fenomena ini menandakan bahwa pasar sedang menilai risiko jangka panjang di sektor teknologi, sementara investor besar menyesuaikan strategi portofolio. Diversifikasi dan sektor defensif menjadi kunci menghadapi volatilitas, karena sektor teknologi berisiko terpengaruh oleh AI, tetapi saham fundamental tetap mampu menahan tekanan pasar.

Kesimpulannya, meski data inflasi memberikan optimisme jangka pendek, kekhawatiran AI dan ketidakpastian kebijakan moneter AS membuat pasar bergerak berhati-hati. Investor disarankan meninjau kembali eksposur teknologi dan menyeimbangkan portofolio dengan aset defensif untuk menghadapi potensi fluktuasi lebih lanjut.

Share This Article