Napak Tilas Isyarah NU: Menyusuri Jejak Spiritulitas dan Perjuangan Ulama Nusantara

3 Min Read
Napak Tilas Isyarah NU: Menyusuri Jejak Spiritulitas dan Perjuangan Ulama Nusantara (Ilustrasi)

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Dari Bangkalan, jejak ruhani yang lahir dari tongkat dan tasbih ulama menjadi titik awal lahirnya Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Satu abad kemudian, jejak itu kembali ditapaki melalui kegiatan Napak Tilas Isyarah Pendirian NU, sebagai upaya menghidupkan kembali pesan spiritual para pendiri.

Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin. Warga NU diajak menelusuri kembali akar perjuangan para muassis, menjemput barokah, dan mengambil inspirasi dari nilai keikhlasan, keberanian, dan kebijaksanaan yang diwariskan generasi sebelumnya.

Sejarah NU bermula dari Syaikhona Muhammad Khalil bin Abdul Latif di Bangkalan, diteruskan KH As’ad Samsul Arifin, dan kemudian KH Hasyim Asy’ari. Dari garis spiritual ini, NU lahir, tumbuh, dan menjadi pilar keagamaan, sosial, dan kebangsaan di Indonesia.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Kholil Staquf, menekankan bahwa napak tilas merupakan momentum penting untuk mengingat pesan spiritual para pendiri.

“Isyarah itu membawa barokah besar. Kita diajak untuk kembali mengambil berkah dari sejarah yang sarat nilai,” ujar KH Yahya, dikutip Selasa, 6 Januari 2026.

Prosesi diawali penyerahan tongkat dan tasbih dari KH Fakhruddin Aschal (Bangkalang) kepada KH Azaim Ibrahimi (Situbondo), lalu diteruskan hingga KH Abdul Hakim Mahfudz di Tebuireng, Jombang. Estafet ini melambangkan kesinambungan perjuangan spiritual para ulama.

H. Abdul Halim, Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, menekankan bahwa napak tilas meneguhkan fondasi NU sebagai organisasi yang lahir untuk keselamatan umat dan keutuhan NKRI.

“Para ulama pendiri NU meletakkan fondasi nilai spiritual sekaligus kebangsaan,” kata Abdul Halim.

Rombongan menempuh rute bersejarah: dari Bangkalan ke Pelabuhan Kamal, menyeberang ke Surabaya, berziarah ke Makam Sunan Ampel, singgah di kantor PCNU Surabaya, lalu berakhir di Tebuireng, Jombang. Setiap lokasi merekam perjalanan ulama Nusantara yang memadukan spiritualitas, ilmu, dan kebangsaan.

Napak tilas terbuka untuk umum, namun jumlah peserta dibatasi maksimal 1.000 orang agar prosesi tetap khidmat. Kegiatan ini menjadi refleksi sekaligus pengingat bahwa NU lahir dari pesan sunyi para ulama, tumbuh dari kesabaran, dan bergerak untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.

Napak Tilas Isyarah Pendirian NU menegaskan kembali: sejarah NU bukan hanya catatan masa lalu, tetapi pedoman hidup dan perjuangan yang relevan bagi generasi sekarang.

Penulis: Abdi

Share This Article