Operasional Pabrik Tembaga Freeport Indonesia Ditargetkan Kembali Semester II 2026

2 Min Read
Operasional Pabrik Tembaga Freeport Indonesia Ditargetkan Kembali Semester II 2026 (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Freeport Indonesia menargetkan pengoperasian kembali pabrik tembaga di Gresik pada paruh kedua 2026. Penundaan ini terkait dengan pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Papua, yang sempat berhenti akibat longsor lumpur pada September 2025.

Smelter baru Freeport membutuhkan pasokan konsentrat dari tambang GBC. Tanpa bahan baku tersebut, fasilitas tidak dapat beroperasi.

Freeport-McMoRan (FCX), perusahaan induk Freeport, menyatakan bahwa keberhasilan pengoperasian smelter baru sangat tergantung pada pemulihan kegiatan tambang GBC.

Sementara itu, smelter lama, PT Smelting, telah memulai kembali operasinya pada akhir Desember 2025. Namun, kapasitas produksi masih lebih rendah dibandingkan sebelumnya karena terbatasnya pasokan konsentrat.

FCX memproyeksikan adanya ketidakstabilan produksi dan penjualan tembaga sampai smelter baru kembali mencapai kapasitas operasi normal.

Target pemulihan tambang GBC dijadwalkan pada kuartal kedua 2026. Jika berjalan sesuai rencana, pabrik smelter baru dapat kembali beroperasi normal.

Selain tembaga, produksi emas Freeport juga terpengaruh, tercatat mengalami penurunan hampir 50% sepanjang 2025 akibat insiden longsor yang sama.

Kasus ini menekankan pentingnya kesiapan industri dan cadangan bahan baku dalam menjaga keberlanjutan operasional fasilitas strategis.

Pihak perusahaan dan pemerintah terus memantau pemulihan kegiatan tambang untuk memastikan ketersediaan pasokan tembaga dan emas bagi kebutuhan nasional maupun ekspor.

Dengan pemulihan yang lancar, operasional pabrik tembaga Freeport di Gresik diperkirakan akan kembali normal pada Semester II 2026.

Penulis: Adi

Share This Article