Efek MSCI Menghantam IHSG, OJK dan BEI Siapkan Reformasi Pasar Modal

3 Min Read
Efek MSCI Menghantam IHSG, OJK dan BEI Siapkan Reformasi Pasar Modal (Ilustrasi)

JAKARTA, NOLESKABAR.COM– IHSG anjlok tajam setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan perlakuan indeks untuk saham Indonesia. Menyikapi tekanan pasar tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai menyiapkan langkah perbaikan struktural di pasar modal Indonesia.

Upaya tersebut dibahas dalam rapat daring antara OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan MSCI pada Senin (2/2/2026). Pertemuan ini menjadi langkah awal otoritas merespons gejolak IHSG anjlok sekaligus menjaga kepercayaan investor global.

Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan MSCI menyoroti dua persoalan utama di pasar modal Indonesia, yakni rendahnya transparansi kepemilikan saham dan terbatasnya likuiditas yang berdampak langsung pada IHSG.

Menurut Hasan, OJK bersama BEI dan KSEI telah mengajukan proposal solusi untuk menjawab kekhawatiran MSCI, khususnya terkait pengungkapan kepemilikan saham, termasuk pemegang saham dengan porsi di bawah 5 persen yang dinilai krusial bagi kredibilitas pasar.

Selain transparansi, OJK juga menyiapkan pembenahan sistem klasifikasi investor pasar modal. Jika sebelumnya hanya terdapat sembilan kategori investor, ke depan klasifikasi akan diperluas menjadi 27 subtipe guna memperjelas profil investor dan pengungkapan beneficial ownership saham.

Langkah berikutnya, OJK mengusulkan peningkatan free float saham dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Kebijakan free float ini diyakini mampu memperkuat likuiditas dan mengurangi risiko IHSG anjlok berulang akibat minimnya saham publik.

Hasan menegaskan penerapan kebijakan free float pasar modal tidak dilakukan secara instan, melainkan bertahap dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di BEI agar tidak menimbulkan guncangan baru di pasar saham.

Dari hasil rapat tersebut, MSCI disebut membuka ruang diskusi lanjutan dan bahkan siap memberikan panduan teknis terkait metodologi penilaian indeks saham Indonesia yang menjadi acuan investor global.

Sementara itu, Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa pertemuan teknis antara BEI, OJK, dan MSCI akan digelar rutin setiap pekan hingga paling lambat Mei 2026 sebagai bagian dari upaya pemulihan pasar modal Indonesia.

Tekanan pasar muncul setelah MSCI membekukan kenaikan bobot saham Indonesia, menghentikan penambahan saham baru, serta menunda promosi saham di seluruh segmen indeks, yang memicu aksi jual dan membuat IHSG anjlok dalam sepekan terakhir.

Akibat tekanan tersebut, IHSG sempat terpuruk hingga level 7.800 sebelum ditutup melemah di posisi 7.922, turun hampir 5 persen, mencerminkan rapuhnya sentimen investor terhadap pasar saham Indonesia.

Gejolak IHSG anjlok juga berdampak pada pucuk pimpinan lembaga keuangan. Direktur Utama BEI Iman Rachman mengundurkan diri, disusul mundurnya sejumlah pejabat OJK, termasuk Ketua DK OJK Mahendra Siregar.

Sebagai langkah stabilisasi, OJK menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai Pelaksana Tugas Ketua Dewan Komisioner, serta menetapkan Hasan Fawzi sebagai pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal untuk mengawal pemulihan IHSG dan pasar modal Indonesia.

Kini, OJK dan BEI berpacu dengan waktu memperbaiki fondasi pasar modal Indonesia sebelum evaluasi lanjutan MSCI, demi menghentikan tekanan lanjutan dan memulihkan kepercayaan investor terhadap IHSG.

Penulis: Sukri

Share This Article