NOLESKABAR.COM – Nama Ali Khamenei tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Republik Islam Iran. Lebih dari tiga dekade ia berdiri di pucuk kekuasaan sebagai Pemimpin Tertinggi, mengendalikan arah politik, militer, hingga kebijakan strategis negara di tengah tekanan internasional yang tak pernah surut.
Lahir di Mashhad pada 19 April 1939, Khamenei tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat. Ia memperdalam studi Islam di kota suci Qom dan menjadi murid dari Ruhollah Khomeini, tokoh sentral di balik Revolusi Islam Iran yang menggulingkan Shah pada 1979. Kedekatannya dengan Khomeini menjadi pintu masuk menuju lingkaran elite revolusi.
Pada era 1960–1970-an, Khamenei aktif dalam gerakan bawah tanah menentang monarki. Ia beberapa kali ditangkap dan dipenjara oleh rezim Shah akibat aktivitas politiknya. Pengalaman itu membentuk karakter politiknya yang keras dan ideologis.
Setelah revolusi berhasil, kariernya melesat. Ia dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis dalam pemerintahan baru. Tahun 1981 menjadi titik balik penting: ia selamat dari percobaan pembunuhan saat berpidato di sebuah masjid di Teheran. Ledakan bom yang disembunyikan dalam alat perekam menyebabkan tangan kanannya lumpuh permanen. Namun peristiwa itu justru menguatkan posisinya di mata pendukung revolusi.
Pada November 1981, Khamenei terpilih sebagai Presiden Iran. Ia memimpin negara dalam situasi genting, terutama selama Perang Iran-Irak yang berkecamuk hingga 1988. Selama dua periode kepresidenannya, ia dikenal sebagai figur yang menjaga stabilitas internal dan mempertahankan garis ideologis revolusi.
Momentum terbesar dalam kariernya datang pada 1989, ketika Khomeini wafat. Majelis Ahli Iran kemudian menunjuk Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi—jabatan tertinggi dalam struktur politik Iran yang memiliki kewenangan luas atas militer, peradilan, dan kebijakan luar negeri. Sejak saat itu, ia menjadi figur paling berpengaruh di negara tersebut.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei menggagas konsep “Poros Perlawanan” untuk menghadapi pengaruh Amerika Serikat dan Israel di kawasan. Ia juga mendorong “ekonomi perlawanan” guna mengurangi ketergantungan terhadap Barat di tengah sanksi berat.
Dalam isu nuklir, Iran di bawah pengaruh Khamenei menyepakati Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015 bersama negara-negara besar dunia. Namun kesepakatan itu goyah setelah Amerika Serikat menarik diri pada 2018 dan kembali menjatuhkan sanksi.
Selama lebih dari 36 tahun memimpin sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei menghadapi gelombang protes domestik, tekanan ekonomi, hingga ketegangan geopolitik yang terus meningkat. Namun ia tetap mempertahankan struktur ideologis Republik Islam yang dibangun sejak 1979.
Dari seorang aktivis revolusi yang kerap keluar-masuk penjara, presiden dua periode, hingga menjadi otoritas tertinggi Iran selama puluhan tahun, perjalanan karier Ali Khamenei menandai babak penting dalam sejarah politik Timur Tengah modern.
Editor: Adi
