Iran Berduka 40 Hari, Fakta Baru Kematian Khamenei Bikin Dunia Tegang

3 Min Read
Jejak Karier Ali Khamenei: Dari Aktivis Revolusi hingga Penguasa Tertinggi Iran (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM-Pemerintah Iran melalui media semi-resmi mengumumkan masa berkabung nasional setelah Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, dinyatakan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) dini hari waktu setempat.

Laporan media semi-pemerintah Iran, Fars, menyebutkan bahwa Khamenei gugur saat berada di kantornya ketika menjalankan tugas kenegaraan. Ia dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan udara besar-besaran yang menyasar sejumlah titik strategis di Iran.

Televisi pemerintah Iran, IRIB, juga menyiarkan konfirmasi kematian tersebut. Dalam siarannya, IRIB menyebut pemimpin tertinggi Republik Islam itu “telah syahid” setelah kompleks kediamannya menjadi target pengeboman.

Menurut laporan yang dikutip dari sejumlah media internasional, serangan ke kompleks kediaman Khamenei melibatkan puluhan bom. Media Israel Channel 12, seperti dilansir Times of Israel, mengklaim sekitar 30 bom dijatuhkan setelah koordinasi antara Israel dan Amerika Serikat.

Sebagai respons atas wafatnya tokoh sentral tersebut, otoritas Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional serta tujuh hari libur resmi. Pengumuman itu disampaikan tak lama setelah konfirmasi kematian Khamenei tersebar luas.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump, telah lebih dulu menyampaikan pernyataan yang mengindikasikan kematian Khamenei dalam operasi militer tersebut. Pernyataan senada juga datang dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang memberi sinyal kuat bahwa target utama serangan memang pemimpin tertinggi Iran.

Kematian Khamenei menandai babak baru ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia memimpin Iran sejak 1989 dan memegang otoritas tertinggi, baik dalam urusan politik maupun keagamaan. Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei menjadi figur sentral dalam kebijakan luar negeri Iran, termasuk sikap keras terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Di dalam negeri, suasana duka menyelimuti sejumlah kota besar Iran. Tayangan televisi pemerintah memperlihatkan warga berkumpul dan menyampaikan belasungkawa. Pemerintah juga dilaporkan tengah menyiapkan mekanisme transisi kepemimpinan sesuai konstitusi yang berlaku.

Serangan yang menewaskan Khamenei disebut sebagai bagian dari operasi militer besar-besaran yang menyasar fasilitas dan infrastruktur strategis Iran. Dampaknya tidak hanya dirasakan di ranah politik, tetapi juga memicu reaksi keras dari berbagai kelompok di kawasan.

Sejumlah negara dan organisasi internasional mulai menyerukan penahanan diri guna mencegah konflik meluas. Ketegangan antara Iran dan blok AS-Israel diperkirakan akan terus meningkat, terlebih dengan munculnya ancaman balasan dari Teheran terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Hingga kini, situasi di Iran masih dalam pemantauan ketat, sementara dunia menanti langkah lanjutan yang akan diambil pemerintah Iran pascakepergian pemimpin tertingginya tersebut.

Share This Article