JAKARTA,NOLESKABAR.COM-Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sempat memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, termasuk Indonesia. Namun kabar terbaru memastikan distribusi bahan bakar minyak (BBM) nasional masih dalam kondisi aman.
Dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) yang sebelumnya berada di wilayah konflik kini telah berhasil meninggalkan area berbahaya dan melanjutkan pelayaran secara aman.
Kedua kapal tersebut adalah PIS Rinjani dan PIS Paragon. Keduanya sempat berada di jalur pelayaran yang berdekatan dengan kawasan konflik di Timur Tengah sebelum akhirnya berhasil keluar dari zona risiko.
Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menjelaskan bahwa dari empat kapal milik perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut, dua di antaranya sudah bergerak menjauh dari area konflik.
Menurutnya, langkah ini menjadi bagian dari strategi mitigasi perusahaan dalam menjaga kelancaran rantai pasok energi nasional di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.
Sementara itu, dua kapal lainnya masih berada di kawasan Teluk Arab dan menunggu kondisi lebih aman sebelum melanjutkan perjalanan melalui jalur strategis Selat Hormuz, yang dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
Dua kapal yang masih berada di kawasan tersebut adalah VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro. Meski belum bergerak keluar dari wilayah itu, perusahaan memastikan keduanya dalam kondisi aman.
Kapal Gamsunoro saat ini tengah mengangkut kargo milik pihak ketiga, sedangkan Pertamina Pride menjalankan misi penting membawa minyak mentah jenis light crude oil untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri.
Meski sebagian armada masih menunggu situasi yang lebih stabil, **Pertamina menegaskan pasokan energi Indonesia tetap terjaga. Hal ini didukung oleh jaringan distribusi besar yang dimiliki perusahaan.
Saat ini, rantai pasok energi nasional diperkuat oleh sekitar 345 armada kapal yang beroperasi di berbagai perairan dunia, termasuk jalur internasional dan perairan domestik.
Untuk memastikan distribusi tetap lancar, perusahaan juga menerapkan beberapa skema pengiriman energi, mulai dari jalur Regular, Alternative, hingga Emergency, guna mengantisipasi kemungkinan gangguan di jalur pelayaran global.
Di sisi lain, pemantauan armada dilakukan secara ketat selama 24 jam. Sistem monitoring real-time diterapkan untuk mengawasi posisi kapal, keselamatan kru, serta keamanan muatan.
Perusahaan juga terus berkoordinasi dengan otoritas maritim dan pihak berwenang di berbagai negara guna menjamin keamanan pelayaran di tengah dinamika konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Dalam situasi geopolitik yang terus berubah, Pertamina menegaskan bahwa keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama, sekaligus memastikan kebutuhan energi masyarakat Indonesia tetap terpenuhi.
