JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Pemerintah Inggris menyatakan tengah mempertimbangkan berbagai langkah untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, menyusul meningkatnya ketegangan akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menteri Energi Inggris, Ed Miliband, menegaskan bahwa pemerintahnya tidak menutup kemungkinan mengambil langkah bersama negara-negara sekutu guna memastikan jalur pengiriman energi global tersebut tetap terbuka.
“Membuka kembali Selat Hormuz merupakan prioritas penting bagi dunia. Ada berbagai cara yang bisa kami lakukan untuk berkontribusi, termasuk penggunaan drone pencari ranjau,” kata Miliband, dikutip dari BBC, Minggu (15/3/2026).
Meski demikian, Miliband tidak membeberkan secara rinci rencana operasional yang tengah dibahas oleh pemerintah Inggris. Ia hanya memastikan bahwa seluruh opsi sedang dikaji bersama negara-negara mitra.
“Anda dapat yakin bahwa setiap opsi yang dapat membantu membuka kembali selat tersebut sedang dipertimbangkan bersama sekutu kami,” ujarnya.
Jalur Minyak Dunia Terancam
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Jalur laut sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu menjadi pintu utama ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Diperkirakan sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut. Nilai perdagangan energi yang melintas bahkan mencapai sekitar 600 miliar dolar AS setiap tahun.
Selain minyak mentah, rute ini juga digunakan untuk pengiriman komoditas penting lain seperti helium, bahan kimia sulfat, serta urea yang digunakan dalam industri pupuk.
Ancaman Penutupan oleh Iran
Ketegangan meningkat setelah Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada akhir Februari.
Pernyataan yang dikaitkan dengan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyebut penutupan selat dapat digunakan sebagai tekanan politik dan ekonomi terhadap negara-negara yang dianggap memusuhi Iran.
Selama konflik berlangsung, beberapa kapal dilaporkan mengalami serangan ketika mencoba melintas di jalur tersebut. Otoritas maritim Inggris menyebut sedikitnya 16 kapal, termasuk kapal tanker minyak, telah menjadi sasaran serangan di sekitar wilayah itu.
Iran juga diduga menempatkan ranjau laut di sejumlah titik strategis untuk menghambat pergerakan kapal.
Harga Minyak Melonjak
Dampak konflik langsung terasa pada pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak tajam sejak perang pecah pada 28 Februari.
Sebelum konflik terjadi, harga minyak berada di kisaran 71 dolar AS per barel. Namun beberapa hari kemudian harga sempat melonjak hingga mendekati 120 dolar per barel, sebelum kemudian turun sedikit meski masih berada pada level tinggi.
Lonjakan tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi energi di berbagai negara.
Perdebatan Politik di Inggris
Di dalam negeri Inggris sendiri muncul perbedaan pandangan terkait kemungkinan keterlibatan militer untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut.
Menteri Energi Bayangan dari Partai Konservatif, Claire Coutinho, menilai Inggris perlu mempertimbangkan pengiriman kapal atau drone jika langkah itu memang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional.
“Melindungi jalur pelayaran internasional dan menjaga aset militer di luar negeri jelas merupakan kepentingan Inggris,” ujarnya.
Namun pemimpin Partai Liberal Demokrat, Ed Davey, justru meminta pemerintah Inggris menahan diri dan lebih fokus pada upaya meredakan konflik.
Ia bahkan mengkritik keras kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai memperburuk situasi.
“Inggris tidak boleh berada di bawah perintah seorang presiden Amerika yang tampaknya tidak tahu apa yang sedang dia lakukan,” kata Davey.
Situasi Masih Sangat Rawan
Dengan meningkatnya serangan terhadap kapal dagang dan ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran ini kini menjadi salah satu titik krisis paling sensitif di dunia.
Banyak negara khawatir jika konflik terus berlanjut, dampaknya tidak hanya terbatas pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga dapat mengguncang stabilitas ekonomi global melalui lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok internasional.
Editor; Arini
