JAKARTA, NOLESKABAR.COM Pengerahan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dinilai menjadi sinyal kuat kesiapan menghadapi kemungkinan konflik terbuka dengan Iran. Aset yang dikerahkan meliputi kapal perang, jet tempur, serta pesawat pengisi bahan bakar di udara.
Langkah ini dipandang sebagai fondasi awal bagi potensi serangan berkelanjutan, apabila Presiden Donald Trump memberikan perintah langsung kepada militer. Para pengamat menilai, situasi ini mencerminkan meningkatnya tensi antara Washington dan Teheran.
Sebelumnya, Trump diketahui pernah memerintahkan serangan terhadap Iran pada tahun lalu. Ia juga berulang kali melontarkan ancaman tindakan militer jika proses perundingan tidak menghasilkan kesepakatan baru.
Perundingan tersebut bertujuan menggantikan perjanjian nuklir yang dibatalkan Trump pada 2018. Sejak saat itu, hubungan kedua negara memburuk, terutama terkait program nuklir Iran dan sanksi ekonomi yang diberlakukan AS.
Sejumlah media terkemuka, seperti CNN dan CBS, melaporkan bahwa militer AS disebut siap melancarkan serangan paling cepat akhir pekan ini. Laporan itu mengutip informasi yang disampaikan oleh Agence France-Presse.
Meski demikian, hingga kini Trump disebut belum mengambil keputusan final. Pemerintah AS masih mempertimbangkan berbagai skenario, termasuk dampak politik, ekonomi, dan keamanan regional.
Sumber-sumber yang dikutip CNN menyebut bahwa Gedung Putih telah menerima pengarahan khusus terkait kesiapan militer. Peningkatan kekuatan udara dan laut dilakukan secara intensif dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, situasi di kawasan tetap tegang, terutama di sekitar Teheran. Dunia internasional kini menanti langkah selanjutnya dari Washington, yang dapat menentukan arah stabilitas Timur Tengah dalam waktu dekat.
