Cerita Pendidikan dari Bangkalan: Kelas Ambruk, Siswa Belajar Tanpa Alas

3 Min Read
Cerita Pendidikan dari Bangkalan: Kelas Ambruk, Siswa Belajar Tanpa Alas (Ilustrasi)

BANGKALAN, NOLESKABAR.COM– Proses belajar mengajar di SDN Tlagah 02, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, kini berlangsung di tempat yang tak pernah dirancang sebagai ruang kelas. Teras sekolah menjadi ruang belajar utama bagi para siswa, tanpa meja, tanpa kursi, bahkan tanpa alas duduk.

Sejumlah siswa yang terdiri dari kelas 2,3 dan 6 tampak duduk bersila di lantai teras sekolah, tepat di depan ruang kelas yang tak lagi aman digunakan. Mereka bukan sedang mengikuti kegiatan luar ruang, melainkan menjalani rutinitas belajar harian akibat sebagian bangunan sekolah ambruk dan dinilai membahayakan keselamatan.

Bangunan sekolah yang runtuh seolah menyerah pada usia dan minim perhatian. Dari deretan ruang kelas yang ada, kini hanya tersisa beberapa yang masih bisa ditempati. Itupun dengan kondisi terbatas dan jauh dari kata layak sebagai ruang belajar anak-anak.

Keterbatasan ruang membuat pihak sekolah mencari alternatif. Beberapa waktu lalu, sebagian siswa sempat belajar di rumah warga sekitar sekolah. Teras dan ruang tamu rumah warga berubah fungsi menjadi kelas darurat demi memastikan proses belajar tetap berjalan.

Namun ironi kembali hadir. Rumah warga yang selama ini digunakan sebagai tempat belajar justru dilanda musibah. Salah satu anggota keluarga pemilik rumah meninggal dunia, sehingga lokasi belajar darurat tersebut tak lagi memungkinkan digunakan.

“Untuk sementara seperti ini, karena rumah yang ditempati belajar kemarin lagi kena musibah,” kata Kepala Sekolah SDN Tlagah 02, Fatmawati, Rabu, 21 Januari 2026.

Kondisi ini menurut Fatmawati tak ada pilihan lain. Para siswa kembali ke sekolah dan menempati teras bangunan yang tersisa. Mereka duduk langsung di atas lantai dingin, tanpa tikar, tanpa alas, tanpa perlindungan dari panas matahari maupun debu.

Di tengah kondisi tersebut, para guru tetap mengajar. Dengan suara yang harus mengalah pada angin dan aktivitas sekitar, materi pelajaran tetap disampaikan seolah situasi ini adalah bagian wajar dari proses pendidikan.

Anak-anak pun mendengarkan dengan patuh. Mereka belajar membaca, menulis, dan berhitung, sambil secara tidak langsung belajar menerima kenyataan bahwa sekolah tak selalu memiliki ruang, dan pendidikan tak selalu berlangsung di tempat yang layak.

“Kami sedang berusaha untuk membeli karpet, agar anak anak bisa belajar menggunakan karpet,” ujarnya.

Jika semangat belajar diukur dari keteguhan, siswa SDN Tlagah 02 pantas mendapat nilai sempurna. Ironisnya, nilai itu lahir bukan dari fasilitas memadai, melainkan dari keterbatasan yang terus mereka hadapi setiap hari.

Kondisi ini bukan kejadian baru dan bukan satu-satunya di Kabupaten Bangkalan. Bangunan rusak telah lama dilaporkan, ruang kelas sudah lebih dulu ambruk, dan alternatif tempat belajar satu per satu habis, mulai dari kelas, rumah warga, hingga akhirnya teras sekolah.

Meski demikian, pendidikan tetap berjalan meski tanpa alas, tanpa ruang, dan tanpa kepastian. Anak-anak terus belajar, guru terus mengajar, sementara bangunan sekolah menunggu nasib, dan negara diuji: apakah akan hadir sebelum teras sekolah benar-benar menjadi ruang kelas permanen?

Penulis: Syah

Share This Article