JAKARTA, NOLESKABAR.COM– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin (26/1/2026). IHSG berakhir di level 8.975,33, naik 24,32 poin atau 0,27 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan, dengan rentang harian berada di level 8.923,53 hingga 9.058,05. Sementara itu, posisi penutupan sebelumnya tercatat di level 8.951,01.
Penguatan IHSG turut ditopang oleh kinerja positif saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya yang tergabung dalam indeks LQ45 dan IDX30.
Indeks LQ45 tercatat menguat 1,01 persen ke level 882,43, sementara indeks IDX30 naik 0,36 persen ke posisi 450,56. Indeks saham berkelanjutan Sri-Kehati juga menguat tipis 0,018 persen ke level 388,36.
Dari indeks sektoral berbasis obligasi dan kualitas kredit, PEFINDO i-Grade turut menguat 0,45 persen ke level 229,74, mencerminkan sentimen positif terhadap emiten berperingkat investasi.
Sentimen global juga memberikan dukungan terhadap pergerakan pasar saham domestik. Di kawasan Asia, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,79 persen ke level 52.885,25, sementara KOSPI Korea Selatan menguat 0,81 persen ke posisi 4.949,59.
Di Hong Kong, indeks Hang Seng bergerak menguat tipis 0,060 persen ke level 26.765,52, menandakan kehati-hatian investor di tengah dinamika ekonomi regional.
Sementara itu, bursa saham Eropa dan Amerika Serikat juga menunjukkan tren positif. Indeks DAX Jerman naik 0,22 persen ke level 24.846,49. Di Wall Street, Dow Jones Industrial Average menguat 0,58 persen ke posisi 49.098,71, sedangkan S&P 500 naik tipis 0,033 persen ke level 6.915,61.
Secara year to date (YTD), IHSG telah bergerak dalam rentang 5.882,61 hingga 9.174,47, mencerminkan volatilitas sekaligus tren penguatan pasar saham Indonesia sepanjang tahun berjalan.
Analis menilai, pergerakan positif IHSG hari ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global yang kondusif serta optimisme investor terhadap kinerja emiten berkapitalisasi besar. Namun demikian, pelaku pasar tetap diminta mencermati potensi volatilitas seiring perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter negara-negara utama.
Penulis: Sultoni
