JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengimbau para investor untuk tetap bersikap rasional di tengah meningkatnya tensi geopolitik global yang berpengaruh pada pergerakan pasar saham.
Jeffrey menekankan bahwa dalam kondisi penuh ketidakpastian, investor perlu fokus pada aspek fundamental perusahaan serta tidak mudah terpengaruh oleh sentimen jangka pendek yang bersifat spekulatif.
“Dalam menghadapi eskalasi geopolitik global, kami mengimbau investor tetap rasional, mengedepankan analisis fundamental, dan tidak mengambil keputusan secara emosional,” ujar Jeffrey kepada awak media di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Ia juga mengingatkan agar setiap investor menyesuaikan strategi investasinya dengan profil risiko masing-masing, sehingga portofolio tetap terjaga meskipun pasar mengalami volatilitas tinggi.
Ketegangan global meningkat seiring konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dan keuangan dunia.
Situasi tersebut berdampak pada pelemahan bursa di kawasan Asia, termasuk Indonesia, dengan indeks saham dibuka melemah pada perdagangan Senin pagi akibat tekanan sentimen global.
Di kawasan Teluk, beberapa pasar saham sempat terganggu, seperti di Kuwait yang menghentikan perdagangan, serta Uni Emirat Arab yang menutup bursa sementara. Negara lain seperti Qatar, Arab Saudi, Yordania, dan Bahrain juga meningkatkan kewaspadaan.
Konflik memuncak setelah serangan udara besar-besaran terhadap target strategis di Iran, termasuk fasilitas militer dan infrastruktur penting yang diduga berkaitan dengan program pertahanan negara tersebut.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke sejumlah basis militer sekutu AS di kawasan Teluk, yang memperbesar risiko instabilitas keamanan dan ekonomi regional.
Eskalasi ini turut memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar seperempat pasokan minyak dan gas dunia, sehingga berpotensi mengguncang pasar energi global dan meningkatkan biaya logistik serta asuransi pengiriman.
