JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan komitmen kuat Indonesia dalam melindungi keanekaragaman hayati dunia melalui penguatan hutan adat, perlindungan satwa liar, serta pemberantasan kejahatan perdagangan satwa lintas negara. Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan The Lunch Meeting with The Royal Foundation di London, Inggris, Senin (19/1/2026).
Dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa, Menhut menekankan bahwa pengakuan hutan adat menjadi pilar utama strategi konservasi nasional. Kebijakan ini dinilai tidak hanya menjaga kelestarian ekosistem, tetapi juga memperkuat peran masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai penjaga alam.
“Pengakuan hutan adat memberdayakan masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai garda terdepan pelindung keanekaragaman hayati,” ujar Raja Juli Antoni.
Indonesia, lanjutnya, menargetkan penetapan 1,4 juta hektare hutan adat sebagaimana disampaikan dalam United for Wildlife Global Summit di Brasil pada November 2025. Sepanjang 2025, proses penetapan menunjukkan kemajuan signifikan, mulai dari tahap konsolidasi, verifikasi, hingga penetapan hukum di sejumlah wilayah.
Untuk memastikan kualitas dan kredibilitas, pemerintah telah menerbitkan Pedoman bagi Calon Verifikator Hutan Adat serta menjalankan program peningkatan kapasitas di berbagai daerah.
Selain penguatan hutan adat, pemerintah juga memprioritaskan mitigasi konflik manusia dan satwa liar, khususnya konflik manusia–gajah di Sumatra. Melalui peta jalan yang disusun, Indonesia menargetkan 75 persen konflik dapat dikelola secara efektif serta penurunan risiko hingga 75 persen pada 2030.
Dalam upaya menekan kejahatan satwa liar, Indonesia memperkuat patroli di habitat kritis, meningkatkan pengawasan di bandara dan pelabuhan, serta memulangkan satwa hasil perdagangan ilegal ke habitat alaminya. Penegakan hukum juga diperketat, termasuk kerja sama dengan platform digital untuk mencegah perdagangan ilegal secara daring.
“Kami telah menandatangani nota kesepahaman dengan Asosiasi E-Commerce Indonesia untuk mencegah perdagangan ilegal flora dan fauna dilindungi melalui sistem elektronik,” kata Menhut.
Kunjungan Raja Juli Antoni ke London juga dilakukan untuk mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) Breakfast Discussion bersama King Charles III yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Januari 2026. Sebelumnya, Menhut turut menyambut kedatangan Presiden Prabowo di London dan mengikuti rapat terbatas bersama jajaran menteri secara daring.
Royal Foundation sendiri merupakan lembaga filantropi berbasis di Inggris yang didirikan keluarga kerajaan. Lembaga ini berfokus pada dukungan berbagai inisiatif global di bidang pelestarian lingkungan, aksi iklim, kesehatan mental, serta pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan strategis yang berkelanjutan dan berdampak luas.
