JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung hampir sebulan sejak 28 Februari 2026 menunjukkan dinamika tak terduga. Sejumlah pengamat internasional menilai posisi Iran justru semakin kuat di tengah tekanan militer yang terus berlangsung.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, sebelumnya menyebut operasi militer AS-Israel sebagai upaya “blitzkrieg” yang gagal mencapai target cepat. Istilah tersebut merujuk pada strategi perang kilat yang populer sejak Perang Dunia II, namun dalam konteks konflik ini dinilai tidak berjalan efektif.
Sejak awal, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berharap operasi militer dapat segera melumpuhkan Iran. Selain faktor militer, keduanya juga menghadapi tekanan politik domestik menjelang agenda pemilu penting di negara masing-masing.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan hasil berbeda. Pemerintahan Iran tidak runtuh, dan gelombang pemberontakan internal yang diharapkan tidak terjadi. Hal ini menandakan kekuatan struktur politik Iran yang dinilai lebih solid dibandingkan perkiraan awal.
Sejumlah laporan media internasional, termasuk The New York Times, mengungkap adanya pengakuan dari pejabat AS terkait kesalahan perhitungan dalam menilai kapasitas Iran, baik dari sisi militer maupun ketahanan politik.
Berbeda dengan kasus Intervensi NATO di Libya 2011 yang berujung pada runtuhnya rezim Muammar Gaddafi, Iran dinilai memiliki sistem kepemimpinan kolektif yang lebih kokoh. Struktur ini membuat negara tetap stabil meskipun menghadapi tekanan militer intensif.
Selain itu, serangan udara yang masif tidak serta-merta mampu menjatuhkan sebuah rezim. Para analis menilai strategi berbasis bombardemen tanpa dukungan dinamika internal justru sulit menghasilkan perubahan politik signifikan.
Hingga kini, Iran tetap menunjukkan ketahanan baik secara militer maupun politik. Di tengah konflik yang belum mereda, banyak pihak menilai situasi justru menempatkan Iran pada posisi yang relatif lebih diuntungkan dibandingkan ekspektasi awal pihak lawan.
