Kasus Dugaan Keracunan Menu MBG di Bangkalan, Begini Penjelasan Ketua Satgas

3 Min Read
Kasus Dugaan Keracunan Menu MBG di Bangkalan, Begini Penjelasan Ketua Satgas (Ilustrasi)

BANGKALAN,NOLESKABAR.COM – Kasus dugaan keracunan yang menimpa puluhan pelajar penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kokop, Bangkalan, masih menyisakan tanda tanya besar.

Hingga Jumat (5/6/2026), penyebab pasti insiden yang membuat puluhan siswa mengalami gangguan kesehatan itu belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Ketua Satgas MBG Kabupaten Bangkalan, Bambang Budi Mustika, mengungkapkan sedikitnya 84 siswa dari berbagai jenjang pendidikan harus mendapatkan penanganan medis setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kokop, Kamis (4/6/2026).

“Sebanyak 84 siswa sempat masuk dan mendapatkan penanganan di Puskesmas Kokop. Sampai pagi ini masih ada 12 siswa yang menjalani rawat inap, namun kondisinya terus membaik dan mudah-mudahan hari ini sudah bisa pulang,” ujar Bambang.

Para siswa yang terdampak berasal dari PAUD, SD, SMP hingga SMA. Mereka merupakan bagian dari sekitar 3.700 penerima manfaat program MBG di wilayah Kecamatan Kokop.

Berdasarkan hasil pendataan awal, sebagian besar siswa mengeluhkan mual, pusing, dan rasa ingin muntah sesaat setelah menyantap makanan. Gejala tersebut dilaporkan muncul sekitar satu jam setelah makanan dikonsumsi.

Menu yang disajikan saat itu terdiri dari nasi putih, sate, acar, tempe goreng, dan buah semangka. Menariknya, para siswa mengaku tidak menemukan kejanggalan pada makanan yang mereka santap.

“Menurut keterangan siswa, makanan tidak berbau dan rasanya juga enak. Bahkan sebagian besar menghabiskan makanan yang diberikan,” kata Bambang.

Untuk mengungkap penyebab kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan bersama Puskesmas Kokop langsung melakukan investigasi epidemiologi. Pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh penerima manfaat MBG guna menelusuri kemungkinan sumber gangguan kesehatan yang dialami para siswa.

Petugas juga telah mengamankan sejumlah sampel makanan serta sampel muntahan siswa untuk diuji di laboratorium di Surabaya.

“Hingga saat ini kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Semua masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sampel makanan dan muntahan sudah diamankan untuk dilakukan pengujian lebih lanjut,” tegasnya.

Di tengah proses penyelidikan, tim juga menemukan adanya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di dapur SPPG yang masih menggunakan standar lama. Namun demikian, Bambang menegaskan hal tersebut belum bisa dikaitkan dengan insiden yang terjadi karena belum ada hasil pemeriksaan yang mengarah ke sana.

Menurutnya, pihak SPPG bahkan telah mengganti fasilitas tersebut dengan IPAL yang sesuai standar terbaru pada hari yang sama.

Saat ini seluruh pihak terkait masih menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium sebagai dasar untuk menentukan penyebab pasti insiden yang memicu puluhan siswa harus menjalani perawatan medis tersebut.

Penulis: Syah

Share This Article