Kenapa Investor Panik Selalu Rugi? Warren Buffett Bongkar Rahasianya!

3 Min Read
Kenapa Investor Panik Selalu Rugi? Warren Buffett Bongkar Rahasianya! (Ilustrasi)

JAKARTA, NOLESKABAR.COMVolatilitas pasar saham sering membuat banyak investor panik. Namun bagi Warren Buffett, investor legendaris yang dijuluki Oracle of Omaha, gejolak justru menjadi ladang emas bagi mereka yang sabar.

Buffett menekankan: kekayaan bukan soal menebak waktu pasar (market timing), tapi bertahan dan membiarkan investasi berkembang. Dalam surat tahunan kepada pemegang saham Berkshire Hathaway, ia menulis, “Investor berada dalam permainan yang sangat menguntungkan, selama mereka tidak keluar dari pasar saat hambatan muncul.”

Kesabaran Mengalahkan Ketakutan

Sepuluh tahun lalu, pasar dihantam kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan harga minyak yang anjlok. Investor yang panik mungkin menarik dana mereka. Namun jika US$10.000 diinvestasikan di indeks S&P 500 saat itu dan bertahan hingga 2025, nilai investasi itu melonjak tiga kali lipat menjadi sekitar US$30.000.

Pasar memang sempat melewati krisis besar: koreksi tajam 2018, pandemi 2020, dan inflasi tinggi 2022. Tapi bagi Buffett, rasa aman baru muncul setelah pasar pulih. Inilah mengapa disiplin emosional dan kemampuan menahan diri saat harga jatuh sangat menentukan hasil investasi.

Jangan Terjebak “Kebisingan Pasar”

Buffett selalu memperingatkan: keluar-masuk pasar untuk mencari waktu tepat hampir selalu merugikan. Bahkan para profesional kesulitan melakukannya secara konsisten. Investor ritel sering menjual saat ketakutan memuncak dan baru membeli kembali ketika harga sudah tinggi.

Filosofinya sederhana: fokus pada pertumbuhan jangka panjang, bukan pada setiap headline atau fluktuasi harga. Pasar saham, menurut sejarah, secara rata-rata naik 10% per tahun. Bisnis terus berinovasi dan menciptakan nilai, bahkan saat dunia dilanda resesi.

Uang Tunai Justru Lebih Berisiko

Buffett juga menekankan, menunggu waktu yang tepat justru berisiko. Nilai uang tunai tergerus inflasi, dan momen terbesar untuk cuan sering terjadi tepat setelah pasar jatuh. Compounding atau efek bunga majemuk akan bekerja maksimal bagi mereka yang bertahan jangka panjang.

Filosofi Value Investing yang Terbukti

Sebagai pengikut aliran value investing, yang diperkenalkan gurunya Benjamin Graham, Buffett membeli saham perusahaan dengan fundamental kuat dan harga lebih murah dari nilai intrinsiknya, lalu menyimpannya bertahun-tahun.

Berkat strategi ini, Berkshire Hathaway tumbuh dari pabrik tekstil hampir bangkrut menjadi salah satu konglomerat terbesar dunia sejak 1965, melampaui pertumbuhan indeks S&P 500. Buffett percaya pasar saham memindahkan kekayaan dari yang tidak sabar kepada yang sabar.

Volatilitas bukan musuh, tapi sahabat. Dan kesabaran adalah senjata paling ampuh bagi investor yang ingin sukses dalam jangka panjang.

Editor: Adi

Share This Article