Mardiono: Jika Konflik Timur Tengah Berkepanjangan, Energi RI Terancam Krisis

3 Min Read
Mardiono: Jika Konflik Timur Tengah Berkepanjangan, Energi RI Terancam Krisis (Ilustrasi)

SURABAYA,NOLESKABAR.COM– Utusan Khusus Presiden Bidang Kerja Sama Pengentasan Kemiskinan dan Ketahanan Pangan, Muhamad Mardiono, menegaskan Indonesia tidak akan pernah membenarkan segala bentuk penjajahan dan kekerasan di muka bumi.

Hal itu ia sampaikan dalam rangkaian Safari Ramadan di Jawa Timur. Menurutnya, sikap Indonesia sudah jelas sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang menolak penjajahan dan menyerukan perdamaian dunia.

“Indonesia ingin menciptakan perdamaian dunia. Kita tidak menghalalkan kekerasan dalam bentuk apa pun,” ujar Mardiono di Ponpes Al-Ibrohimy, Galis, Bangkalan. Rabu, 4 Maret 2026.

Ia menyinggung eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk serangan yang melibatkan Iran dan Israel-Amerika. Dalam situasi tersebut, Indonesia tetap memilih jalur diplomasi dan mendorong penghentian kekerasan.

Ketua Umum Partai PPP itu menyebut Presiden RI Prabowo Subianto siap mengambil peran aktif dalam meredakan ketegangan global. Bahkan, menurutnya, Presiden membuka peluang untuk terlibat langsung dalam upaya negosiasi demi menghentikan konflik.

“Kalau perlu Indonesia siap memfasilitasi dan membantu proses perdamaian,” katanya.

Ia mengingatkan, konflik antarnegara bersenjata besar sangat berbahaya, terlebih jika melibatkan senjata nuklir. Dampaknya bukan hanya dirasakan di kawasan tertentu, tetapi bisa menghancurkan tatanan dunia.

“Kalau sampai ada penggunaan senjata nuklir, itu akan menyengsarakan seluruh negara, bukan hanya satu kawasan,” tegasnya.

Selain isu geopolitik, Mardiono juga menyoroti pentingnya ketahanan pangan dan energi sebagai benteng utama menghadapi ketidakpastian global. Ia mencontohkan potensi terganggunya jalur logistik internasional yang dapat memengaruhi suplai energi dunia, termasuk Indonesia.

Menurutnya, gangguan kecil saja pada pasokan energi bisa berdampak besar terhadap perekonomian nasional. “Terganggu 5 persen saja sudah bermasalah, apalagi 20 persen,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah disebut terus berupaya memperkuat kemandirian energi dan pangan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor. Ia menilai perang modern tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga perang ekonomi dan logistik.

“Kalau rakyat kelaparan atau energi lumpuh, itu sama bahayanya dengan perang,” kata Mardiono.

Di sisi lain, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan. Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk bertahan dari tekanan global asalkan tetap solid dan tidak terpecah-belah.

Ia juga menyinggung pentingnya konsolidasi organisasi dan penguatan ekonomi nasional agar tidak mudah dilemahkan oleh provokasi eksternal.

Safari Ramadan, menurut Mardiono, menjadi momentum menyampaikan pesan kenegaraan sekaligus mengajak masyarakat bergandengan tangan mendukung pemerintah menghadapi tantangan global maupun domestik.

“Selama kita bersatu, memperkuat diplomasi, serta menjaga ketahanan pangan dan energi, insyaallah Indonesia tetap aman,” pungkasnya.

Penulis: Syah

Share This Article