Menhut Temui CIRAD, Perkuat Kerja Sama Kehutanan Berbasis Sains

3 Min Read
Menhut Raja Juli Antoni bertemu CIRAD untuk memperkuat kerja sama kehutanan berbasis sains. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan. Kali ini, Menhut melakukan pertemuan strategis dengan lembaga riset Prancis, French Agricultural Research for International Development (CIRAD), di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Pertemuan tersebut bertujuan untuk memperkuat kerja sama di bidang kehutanan berbasis sains dan pembangunan berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan pengelolaan hutan di tengah ancaman perubahan iklim dan deforestasi.

Dalam pertemuan itu, Menhut Raja Juli Antoni mengusulkan pembentukan joint working group sebagai wadah kerja sama teknis. Fokus awal kerja sama akan diarahkan pada perhutanan sosial dan konservasi hutan.

“Saya berharap kita dapat membangun kelompok kerja bersama yang dimulai dari perhutanan sosial dan konservasi,” ujar Raja Juli Antoni dalam pernyataan resminya, Rabu (4/2/2026).

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari Declaration of Intent on Sustainable Forestry yang ditandatangani Indonesia dan Prancis pada Mei 2025. Kesepakatan tersebut menjadi landasan kuat bagi penguatan hubungan di sektor kehutanan.

Menhut mengungkapkan bahwa program perhutanan sosial saat ini telah menjangkau lebih dari 8,33 juta hektare kawasan hutan. Program ini melibatkan sekitar 1,4 juta penerima SK dan lebih dari 16 ribu Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).

Menurutnya, kolaborasi dengan lembaga riset seperti CIRAD akan memperkaya metode pengelolaan hutan melalui pelatihan, lokakarya, hingga proyek percontohan. Hal ini penting agar kebijakan kehutanan semakin berbasis data dan riset ilmiah.

CEO CIRAD Elisabeth Claverie de Saint, martin menilai hutan tropis Indonesia memiliki nilai strategis dunia. Ia menyebut sistem agroforestri yang diterapkan di perhutanan sosial mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian alam.

“Hutan tropis di Indonesia, Afrika, dan Amerika memiliki nilai besar, bukan hanya untuk konservasi, tetapi juga pertanian berbasis agroforestri,” ujar Elisabeth. Ia menegaskan CIRAD siap mendukung Indonesia dalam pengembangan kehutanan berkelanjutan.

Pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Pratama, menilai kerja sama ini sebagai langkah positif. “Kolaborasi berbasis riset sangat penting agar pengelolaan hutan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga ilmiah dan berdampak nyata bagi masyarakat,” katanya. Masyarakat pun berharap kerja sama ini mampu menjaga hutan Indonesia tetap lestari sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Share This Article