Siaga Menghadapi Risiko Kerja, Disprinaker Bangkalan Kawal Fire Drill Galangan Kapal

3 Min Read
Foto bersama kolaborasi pihak PT Adiluhung, Disprinaker, dan Satpol PP jepang Latihan Fire Drill (Foto/Syah)

BANGKALAN, NOLESKABAR.COMKeselamatan kerja di industri berisiko tinggi tidak lagi dibiarkan menjadi urusan internal perusahaan semata. Di Bangkalan, negara turun langsung ke lapangan.

Melalui pendampingan teknis Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disprinaker), simulasi kebakaran atau Fire Drill di PT Adiluhung Sarana Segara Indonesia menjadi contoh bagaimana negara hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai pengawal keselamatan.

Fire Drill yang digelar di galangan kapal tersebut berlangsung dengan supervisi dan pendampingan teknis langsung dari Disprinaker Kabupaten Bangkalan. Pendampingan ini memastikan seluruh prosedur, standar keselamatan, hingga skenario darurat berjalan sesuai regulasi dan praktik terbaik keselamatan kerja.

Kepala Disprinaker Kabupaten Bangkalan, Jemmi Tria Sukmana, menegaskan bahwa keterlibatan langsung dinas bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari strategi memperkuat budaya K3 di sektor industri berisiko tinggi.

“Kami tidak hanya mengawasi dari jauh. Disprinaker melakukan pendampingan teknis agar perusahaan benar-benar memahami dan menerapkan standar penanggulangan kebakaran. Ini penting agar kesiapsiagaan tidak berhenti di atas kertas,” ujarnya. Jumat, 23 Januari 2026.

Menurutnya, industri galangan kapal memiliki potensi bahaya kebakaran yang tinggi karena aktivitas pengelasan, bahan mudah terbakar, dan operasional alat berat. Karena itu, latihan Fire Drill harus dilaksanakan secara berkala dan dikawal secara teknis oleh pemerintah daerah.

Disprinaker juga memastikan bahwa pelaksanaan Fire Drill mengacu pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 186 Tahun 2009, yang mewajibkan perusahaan berisiko tinggi memiliki sistem, personel, dan unit penanggulangan kebakaran yang memadai.

Dalam pelaksanaan di lapangan, Disprinaker tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi memberikan arahan teknis terkait penggunaan APAR, alur evakuasi, titik kumpul, hingga koordinasi lintas unit saat kondisi darurat.

Kolaborasi ini diperkuat dengan keterlibatan Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Bangkalan, yang memberikan simulasi teknis pemadaman dan penanganan kebakaran sesuai standar operasional.

Jemmi menilai model pendampingan ini penting untuk memastikan industri tidak salah kaprah dalam menerjemahkan aturan. Tanpa pendampingan, latihan bisa berubah menjadi formalitas, bukan sistem kesiapsiagaan yang sesungguhnya.

“Pendampingan teknis ini adalah kunci. Tujuannya bukan sekadar patuh aturan, tetapi memastikan pekerja benar-benar siap ketika kondisi darurat terjadi,” tegasnya.

Lebih jauh, Disprinaker mendorong agar pola pendampingan ini menjadi standar dalam pembinaan industri di daerah, khususnya sektor kemaritiman yang tengah berkembang pesat.

Di tengah dorongan investasi dan ekspansi industri, Bangkalan mengirim pesan nasional: pertumbuhan tidak boleh mengorbankan keselamatan. Negara harus hadir di lantai produksi, bukan hanya di ruang rapat.

Fire Drill di galangan kapal ini bukan sekadar latihan. Ia adalah contoh bagaimana negara, industri, dan aparat teknis berdiri di garis yang sama mengawal keselamatan sebelum api menguji sistem.

Penulis: Syah

Share This Article