Israel Masuk “Board of Peace”, Bom Tetap Jatuh di Gaza

3 Min Read
Israel Masuk “Board of Peace”, Bom Tetap Jatuh di Gaza (Ilustrasi)

GAZA,NOLESBERITA.COM- Di saat diplomasi dipoles rapi di meja pertemuan, dentuman bom masih mengguncang Jalur Gaza. Israel tercatat bergabung dalam forum bertajuk Board of Peace, namun di lapangan, serangan udara terus berlanjut.

Sedikitnya 10 warga Palestina dilaporkan tewas dalam gempuran terbaru yang menghantam wilayah utara dan selatan Gaza.Serangan terjadi pada Minggu (16/2/2026).

Empat orang tewas ketika rudal menghantam tenda pengungsian di barat Jabalia, Gaza utara. Korban lainnya jatuh di Khan Younis.

Tim medis darurat disebut kesulitan menjangkau lokasi akibat intensitas bombardir yang masih tinggi.Militer Israel menyatakan operasi itu dilakukan sesuai hukum internasional. Mereka menuding serangan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas.

Seorang pejabat Israel bahkan mengklaim pejuang Hamas muncul dari terowongan di dekat “garis kuning” zona pembatas militer yang ditetapkan sepihak oleh Israel di dalam Gaza sejak kesepakatan jeda perang diberlakukan Oktober 2025.Namun, di tengah klaim legalitas itu, angka korban terus bertambah.

Diplomasi di Atas Kertas, Darah di LapanganIroninya, rentetan serangan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum pertemuan perdana Dewan Perdamaian Gaza digelar pada 19 Februari 2026. Forum tersebut akan dihadiri Menteri Luar Negeri Israel, tetapi tanpa partisipasi resmi dari pihak Palestina.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut akan mengumumkan paket rekonstruksi Gaza bernilai miliaran dolar AS, termasuk rencana pembentukan pasukan stabilisasi bermandat PBB. Di atas kertas, ini terdengar seperti awal babak baru. Namun di Gaza, warga masih berlari mencari perlindungan.

Sejak gencatan senjata diteken Oktober 2025, laporan berbagai media Timur Tengah menyebut ribuan pelanggaran terjadi. Otoritas di Gaza mengklaim ratusan warga Palestina tewas selama periode jeda tersebut.

Total korban sejak perang meletus pada 2023 disebut telah melampaui 72.000 jiwa, dengan lebih dari 170.000 orang luka-luka.

Sebagian besar korban jatuh di sekitar “garis kuning” zona terlarang yang makin meluas dan membatasi akses warga ke lahan, rumah, dan sumber penghidupan mereka.“Garis Kuning” yang Kian MelebarAwalnya disebut sebagai batas keamanan sementara, garis kuning kini berubah menjadi realitas permanen di banyak titik.

Perluasan wilayah itu tercatat bergerak ke arah barat, memakan kawasan permukiman dan mempersempit ruang hidup warga sipil.Kelompok hak asasi manusia berulang kali mengecam kebijakan tersebut.

Mereka menilai pembatasan sepihak dan serangan berulang di zona padat penduduk bertentangan dengan semangat gencatan senjata dan prinsip perlindungan warga sipil.Sementara itu, Israel tetap bersikeras bahwa operasinya menargetkan militan dan infrastruktur militer Hamas.

Perdamaian yang DipertanyakanMasuknya Israel ke forum Board of Peace memunculkan pertanyaan tajam: apakah ini langkah menuju solusi, atau sekadar manuver diplomatik di tengah tekanan internasional?

Bagi warga Gaza, jawaban tidak diukur dari pidato atau konferensi pers, melainkan dari apakah malam mereka sunyi tanpa sirene dan ledakan.Selama bom masih jatuh dan korban terus bertambah, istilah “dewan perdamaian” terdengar seperti ironi yang pahit. Gaza kembali menjadi panggung kontrasantara retorika rekonstruksi dan realitas reruntuhan.

Penulis:NL

Share This Article