BANGKALAN,NOLESKABAR.COM-Permainan domino yang selama ini identik dengan hiburan santai di warung kopi kini mulai diarahkan menjadi olahraga prestasi di Kabupaten Bangkalan. Upaya itu dilakukan oleh Organisasi Olahraga Domino Indonesia (ORADO) Bangkalan dengan menyasar generasi muda sebagai calon atlet masa depan.
Langkah awal pembinaan tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi bertajuk The Law of Domino yang digelar di The Sky Resto, Jalan HOS Cokroaminoto, Demangan Barat, Rabu (11/3/2026). Kegiatan ini diikuti puluhan pelajar tingkat SMA dan SMK dari berbagai sekolah di Bangkalan yang berusia antara 14 hingga 18 tahun.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya diajak bermain domino, tetapi juga diperkenalkan pada konsep domino sebagai cabang olahraga yang memiliki aturan resmi, sistem kompetisi, serta organisasi yang menaunginya secara nasional.
Ketua ORADO Bangkalan, Helmi Fuad, mengatakan sosialisasi ini menjadi langkah awal untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap permainan domino. Menurutnya, domino kini telah berkembang menjadi olahraga strategi yang dapat dipertandingkan secara profesional.
“Kami ingin generasi muda memahami bahwa domino bukan sekadar permainan santai. Saat ini domino sudah memiliki aturan permainan yang jelas, organisasi resmi, dan kompetisi yang terstruktur,” ujar Helmi.
Ia menjelaskan, kegiatan sosialisasi tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menuju Kejuaraan Kabupaten (Kejurcab) Bangkalan Domino Championship 2026 yang direncanakan berlangsung pada 29 Maret mendatang.
Kejuaraan tersebut diharapkan menjadi ajang pencarian bibit atlet domino berbakat dari berbagai sekolah dan komunitas di Bangkalan.
“Kejurcab ini kami siapkan sebagai wadah untuk menjaring atlet domino potensial. Harapannya, dari Bangkalan nantinya bisa lahir atlet-atlet domino yang mampu bersaing di tingkat provinsi bahkan nasional,” katanya.
Dalam kejuaraan tersebut, panitia menyiapkan dua kategori pertandingan, yakni kategori junior dan kategori senior. Masing-masing kategori akan diikuti oleh 16 tim yang akan bertanding memperebutkan gelar juara.
Para pemenang nantinya tidak hanya mendapatkan penghargaan, tetapi juga akan dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi domino tingkat Provinsi Jawa Timur sebagai bagian dari proses pembinaan menuju level yang lebih tinggi.
Helmi menambahkan, pengembangan olahraga domino membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama dalam hal pembinaan atlet dan penyediaan pelatih yang kompeten.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bangkalan, Moawi Arifin, menyampaikan dukungannya terhadap upaya pengembangan domino sebagai cabang olahraga baru yang berpotensi melahirkan prestasi.
Menurutnya, pembinaan olahraga tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan melalui proses bertahap yang dimulai dari pembibitan sejak usia dini.
“Dalam pembinaan olahraga ada tiga tahap yang harus dilalui, yaitu pembibitan usia dini, fase pertumbuhan, dan fase pendewasaan,” ujarnya.
Moawi menjelaskan, tahap pembibitan menjadi fase penting untuk mengenalkan olahraga kepada anak-anak agar mereka dapat menemukan minat dan bakatnya. Setelah itu, atlet akan memasuki fase pertumbuhan, di mana mereka mulai menjalani latihan yang lebih terarah untuk meningkatkan kemampuan teknik dan strategi.
Adapun fase terakhir adalah fase pendewasaan, yaitu tahap ketika atlet telah memiliki kematangan kemampuan dan siap bersaing dalam berbagai kompetisi tingkat tinggi.
Ia menegaskan bahwa bibit atlet yang baik harus didukung oleh sistem pembinaan yang berkelanjutan serta kehadiran pelatih yang memiliki kompetensi dan lisensi kepelatihan.
“Ibarat tanaman, bibit yang bagus tetap membutuhkan pupuk agar bisa tumbuh dengan baik. Dalam olahraga, pupuk itu adalah pembinaan yang konsisten dan pelatih yang kompeten,” katanya.
Dengan adanya sosialisasi dan rencana penyelenggaraan kejuaraan domino di Bangkalan, diharapkan olahraga ini tidak lagi dipandang sekadar permainan hiburan. Lebih dari itu, domino diharapkan mampu berkembang menjadi cabang olahraga prestasi yang melahirkan atlet-atlet berpotensi dari daerah.
Editor: Adi
