JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Harga minyak dunia kembali melonjak di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Dikutip dari laporan CNN, Jumat (20/1), potensi serangan militer Washington terhadap Teheran dapat memicu lonjakan signifikan pada harga minyak global, terutama jika mengganggu distribusi dari kawasan Teluk.
Minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 7 persen dan sempat menembus level 70 dolar AS per barel dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan ini terjadi karena pasar mengantisipasi risiko terganggunya pasokan dari Timur Tengah, wilayah yang menjadi pusat produksi energi dunia.
Iran merupakan produsen sekitar 3,2 juta barel minyak per hari atau setara 4 persen dari total produksi global. Negara tersebut juga memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Dengan posisi strategis tersebut, setiap ancaman terhadap stabilitas Iran langsung memengaruhi sentimen pasar energi.
Sorotan utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi titik transit sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima konsumsi global. Gangguan di selat ini, baik akibat konflik militer maupun pembatasan pelayaran, berpotensi mendorong harga melonjak tajam.
Sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa menembus 100 dolar AS per barel jika terjadi gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut. Meski skenario penutupan total dinilai kecil kemungkinannya, pasar tetap memasukkan risiko tersebut dalam perhitungan harga.
Lonjakan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga merembet ke berbagai lini ekonomi. Kenaikan harga minyak mentah biasanya diikuti peningkatan harga bahan bakar, biaya transportasi, dan ongkos distribusi barang, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan inflasi.
Di Amerika Serikat, harga bensin yang sebelumnya relatif stabil mulai menunjukkan tren kenaikan. Jika harga minyak bertahan di kisaran 80 dolar AS per barel atau lebih tinggi, harga bensin diperkirakan kembali melampaui 3 dolar AS per galon.
Ketidakpastian meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, mengisyaratkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar bahwa eskalasi konflik bisa terjadi dalam waktu dekat.
Bagi pasar global, isu utamanya adalah stabilitas pasokan. Selama ketegangan belum mereda, harga minyak diprediksi tetap bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat, seiring investor mengantisipasi risiko geopolitik yang belum sepenuhnya terukur.
Editor: Sukri
