JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia kini menempati peringkat kedua dunia dalam ketahanan energi, berdasarkan laporan “Eye on the Market” yang dirilis JP Morgan Asset Management.
Menurut Bahlil, capaian tersebut menunjukkan posisi Indonesia yang relatif kuat di tengah ketidakpastian global yang berdampak pada pasokan energi di berbagai negara.
“Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur… Indonesia dinilai menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi,” ujar Bahlil Kamis (30/4/2026).
Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di bawah Afrika Selatan dan berada satu tingkat di atas Tiongkok. Penilaian itu didasarkan pada analisis terhadap 52 negara konsumen energi terbesar dunia.
Bahlil menjelaskan, ketahanan energi Indonesia didukung oleh produksi minyak dan gas bumi (migas) domestik yang cukup kuat, serta cadangan batu bara yang masih mampu memenuhi kebutuhan nasional. Selain itu, potensi energi baru dan terbarukan menjadi faktor penting dalam menopang kemandirian energi.
Dari sisi produksi, lifting minyak Indonesia pada 2025 mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per hari (bph), dan tahun ini ditingkatkan menjadi 610 ribu bph.
“Untuk meningkatkan produksi, kita dorong teknologi lanjutan, reaktivasi sumur idle, dan eksplorasi di wilayah Indonesia timur,” kata Bahlil.
Salah satu hasil eksplorasi terbaru berasal dari sumur Geliga-1 di Blok Ganal, Kalimantan Timur, yang dioperasikan oleh ENI dan Sinopec. Temuan ini mengandung potensi gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat.
“Satu setengah tahun kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF… Ini akan produksi di 2028–2029,” jelasnya.
Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga fokus menekan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, melalui program biodiesel.
“Mulai tahun 2026, kita tidak lagi melakukan impor solar. Ini pertama sejak republik ini berdiri,” tegas Bahlil.
Program biodiesel B50 ditargetkan mulai diterapkan secara nasional pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi secara signifikan.
Lebih lanjut, pemerintah juga mengkaji substitusi LPG melalui pengembangan Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG), yang saat ini telah digunakan di berbagai sektor industri.
Bahlil menegaskan bahwa kombinasi antara peningkatan produksi, pemanfaatan sumber daya domestik, dan diversifikasi energi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan energi Indonesia ke depan.
“Ketahanan energi ini bukan hanya soal produksi, tapi juga bagaimana kita mandiri dan tidak bergantung pada impor,” pungkasnya.
