JAKARTA, NOLESKABAR.COM-Pemerintah mulai membuka jalan serius menuju kemandirian energi nasional. Kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan diproyeksikan menjadi tulang punggung produksi bahan bakar minyak (BBM) berkualitas tinggi, sekaligus pintu keluar Indonesia dari ketergantungan impor bensin.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, kilang Balikpapan akan mampu memproduksi BBM dengan rentang oktan RON 92 hingga RON 98. Produksi ini dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan nasional, termasuk pasokan bagi seluruh badan usaha dan SPBU swasta di Tanah Air.
“Kalau kilang dalam negeri sudah sanggup memproduksi RON 92, 95, sampai 98, maka tidak ada lagi alasan impor bensin. Semua bisa disuplai dari dalam negeri,” kata Bahlil saat peresmian proyek RDMP Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto di Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).
Menurut Bahlil, keputusan tersebut bukan sekadar kebijakan teknis energi, melainkan strategi besar negara dalam menguasai sektor vital sesuai amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
“Energi itu urusan hajat hidup orang banyak. Negara wajib hadir, bukan sekadar mengatur, tapi memastikan pasokan dan kemandirian,” ujarnya.
Impor BBM Dipangkas, Tinggal Crude Oil
Lebih jauh, pemerintah tak hanya menyasar bensin. Skema besar juga disiapkan untuk menghentikan impor solar dan avtur secara bertahap. Ke depan, Indonesia hanya akan mengimpor minyak mentah (crude oil) sebagai bahan baku, sementara seluruh proses pengolahan dilakukan di kilang dalam negeri.
Bahlil mengungkapkan, impor solar CN 48 ditargetkan berhenti pada awal 2026. Selanjutnya, impor solar CN 51 akan dihentikan pada semester II tahun yang sama. Sementara itu, impor avtur diproyeksikan berhenti total pada 2027.
Langkah ini diperkuat dengan kebijakan mandatori biodiesel B50, yakni campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dan 50 persen solar, yang mulai diterapkan tahun ini sebagai bagian dari transisi energi nasional.
Kilang Lebih Besar, BBM Lebih Bersih
RDMP Balikpapan merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sekitar 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp 123 triliun. Proyek ini meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari.
Tak hanya soal volume, kualitas BBM yang dihasilkan juga melonjak signifikan. Kilang Balikpapan kini mampu memproduksi BBM berstandar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 part per million (ppm), jauh lebih bersih dibanding standar lama Euro 2 dengan sulfur mencapai 2.500 ppm.
Pemerintah menilai, beroperasinya RDMP Balikpapan bukan sekadar proyek kilang, melainkan simbol perubahan arah kebijakan energi Indonesia, dari negara pengimpor BBM menjadi produsen yang berdaulat atas kebutuhan energinya sendiri.
Penulis: Fauzan
