Belajar di Tengah Pengungsian, Pelajar SMAN 1 Tukka Bertahan di Tenda Darurat hingga PJJ

3 Min Read
Belajar tak berhenti meski ruang kelas berubah jadi tenda. Di tengah pengungsian pascabencana, pelajar SMAN 1 Tukka tetap bertahan dengan semangat menimba ilmu dari tenda darurat hingga PJJ. Karena harapan selalu punya cara untuk hidup.

TAPANULI TENGAH, NOLESKABAR.COM – Semangat belajar ratusan pelajar SMA Negeri 1 Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, tak padam meski sekolah mereka berubah fungsi menjadi tempat pengungsian korban bencana hidrometeorologi. Sejak akhir Januari 2026, para siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda darurat hingga Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Sebanyak 27 ruang kelas di sekolah tersebut kini ditempati para penyintas banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah itu pada akhir November lalu. Kondisi ini memaksa pihak sekolah melakukan penyesuaian besar-besaran agar proses pendidikan tetap berjalan.

“Kami punya 940 siswa yang terbagi dalam 27 rombongan belajar. Karena ruang kelas dipakai pengungsi, sebagian siswa belajar di tenda dan sebagian lagi melalui PJJ,” ujar Kepala SMA Negeri 1 Tukka, Faisal Napitupulu, Selasa (27/1/2026).

Kegiatan belajar di sekolah mulai kembali dilakukan sejak 5 Januari 2026, meski hanya sebagian siswa yang bisa mengikuti pembelajaran tatap muka. Seiring bertambahnya jumlah tenda darurat di halaman sekolah, kini ada empat kelas yang belajar di tenda dengan jadwal terbatas, mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB.

“Anak-anak memang mengeluhkan panas di dalam tenda, tapi mereka tetap berusaha mengikuti pelajaran,” kata Faisal.

Untuk mengakomodasi seluruh siswa, sekolah menerapkan sistem kombinasi luring dan daring. Siswa masuk sekolah tiga kali seminggu, sementara hari lainnya mengikuti pembelajaran jarak jauh. Hingga kini, sistem tersebut dinilai berjalan cukup baik dengan motivasi belajar siswa yang tetap tinggi.

Faisal mengungkapkan, dirinya baru bisa kembali ke sekolah tiga hari setelah banjir bandang terjadi. Saat itu, ruang-ruang kelas sudah dipenuhi para pengungsi yang rumahnya hancur diterjang bencana.

“Ini kebijakan pemerintah menjadikan sekolah sebagai lokasi pengungsian karena banyak warga kehilangan tempat tinggal,” ujarnya.

Tak hanya menjadi pusat pengungsian, area sekolah juga dilengkapi posko TNI dan dapur umum untuk membantu memenuhi kebutuhan para penyintas.

Di tengah keterbatasan itu, semangat siswa tetap menyala. Magfiroh Penggabean, siswi kelas XII, mengaku rumah keluarganya juga terdampak banjir. Namun ia tetap berusaha mengikuti pelajaran sesuai jadwal.

“Kami sekolah tiga hari seminggu, Senin, Rabu, dan Kamis. Belajar di tenda memang panas, tapi karena bersama teman-teman, semangatnya tetap ada,” ujarnya.

Di tengah pemulihan pascabencana, SMA Negeri 1 Tukka menjadi simbol keteguhan: belajar tak berhenti, meski ruang kelas berganti tenda.

Share This Article