Cerita Adaptasi WNA di Pamekasan: Dari Tak Bisa Makan hingga Menikmati Semua Menu

3 Min Read
Cerita Adaptasi WNA di Pamekasan: Dari Tak Bisa Makan hingga Menikmati Semua Menu (Ilustrasi)

PAMEKASAN,NOLESKABAR.COMPerbedaan budaya tidak selalu soal bahasa atau kebiasaan. Bagi Ania Korczewska, warga asal Polandia, tantangan terberat justru datang dari meja makan saat pertama kali tinggal di rumah keluarga suaminya di Desa Buddih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan.

Di awal kedatangannya, Ania kesulitan menyesuaikan diri. Menu harian keluarga suaminya, Muhammad Riski Hariyanto (26), jauh berbeda dengan makanan yang biasa ia konsumsi di negaranya. Nasi, lauk berbumbu kuat, hingga sambal menjadi pengalaman baru yang tidak mudah diterima.

Riski mengakui, proses adaptasi istrinya tidak instan. “Iya, awalnya dia kesulitan, terutama karena tidak terbiasa dengan rasa dan bumbu di sini,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).

Situasi mulai berubah saat Ania mencoba Sate Madura. Menu khas ini justru menjadi titik balik. Rasa daging yang empuk dengan bumbu kacang yang cenderung manis dan gurih lebih mudah diterima di lidahnya.

Sejak itu, sate menjadi makanan favoritnya setiap kali berada di Madura.

Namun, tidak semua menu bisa langsung diterima. Ania tetap menghindari makanan pedas. Sambal, yang menjadi pelengkap utama banyak hidangan Indonesia, masih belum bisa ia nikmati.

Meski begitu, proses adaptasi terus berjalan. Setelah terbiasa dengan sate, Riski mulai mengenalkan makanan lain yang lebih sederhana seperti tempe dan tahu. Dari situ, Ania mulai terbiasa makan dengan nasi seperti keluarga suaminya.

Perlahan, pilihannya semakin beragam. Ia juga mulai menyukai hidangan seperti Gado-gado dan Tahu Tek.

Menurut Riski, kunci utama dari proses ini adalah kemauan untuk mencoba.

“Dia tidak pilih-pilih, semua dicoba. Itu yang bikin cepat menyesuaikan,” katanya.

Adaptasi ini tidak hanya dilakukan Ania. Riski juga mengalami hal serupa saat tinggal di Polandia. Ia harus membiasakan diri dengan pola makan roti dan daging yang berbeda dari kebiasaan makan nasi di Indonesia.

“Awalnya terasa kurang kenyang, tapi lama-lama terbiasa,” ujarnya.

Menariknya, pertukaran budaya ini juga berdampak pada keluarga di Polandia. Riski beberapa kali memasak makanan Indonesia, dan hasilnya cukup diterima. Salah satu yang paling disukai adalah Rendang.

Kisah ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan hambatan, tetapi proses penyesuaian. Dalam kasus Ania, dapur menjadi ruang awal untuk memahami budaya baru, dimulai dari satu tusuk sate, hingga akhirnya terbiasa dengan makanan sehari-hari di Madura.

Editor: Adi

Share This Article