Heboh! Ratusan Jagal Pegirian Bawa Sapi ke DPRD Surabaya, Tolak Relokasi

2 Min Read
Heboh! Ratusan Jagal Pegirian Bawa Sapi ke DPRD Surabaya, Tolak Relokasi (Ilustrasi)

SURABAYA, NOLESKABAR.COM – Halaman Gedung DPRD Surabaya mendadak berubah menjadi arena protes yang tak biasa. Bukan sekadar spanduk dan teriakan, tiga ekor sapi pun dikeler masuk sebagai simbol perlawanan ratusan jagal dan pedagang daging Pegirian.

Massa yang tergabung dalam Paguyuban Jagal dan Pedagang Daging RPH Pegirian memadati kawasan DPRD, Senin (12/1/2026). Mereka menolak rencana Pemerintah Kota Surabaya memindahkan operasional RPH Pegirian ke kawasan Oso Wilangun, yang dianggap mengancam mata pencaharian keluarga jagal yang telah turun-temurun hidup di Pegirian.

“Kami datang karena kecewa. DPRD harus memfasilitasi rakyat, bukan justru terkesan ikut mengusir kami. Ingat, kalian dipilih oleh suara rakyat!,” ujar orator aksi.

Aksi ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Suasana sempat memanas ketika massa bersikeras membawa hewan ternak itu masuk ke halaman kantor, membuat warga sekitar terpana melihat pemandangan jarang terjadi: sapi hidup di tengah unjuk rasa.

Bagi jagal Pegirian, relokasi bukan sekadar soal lokasi. Ini menyangkut kehidupan dan ekonomi keluarga, warisan puluhan tahun yang kini terancam. Mereka bahkan berjanji akan kembali dengan jumlah massa lebih besar jika aspirasi tetap diabaikan.

Di sisi lain, Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Faridz Afif, menyampaikan bahwa relokasi sudah menjadi kebijakan lama, direncanakan matang oleh Pemkot Surabaya.

“Kami sudah menawarkan berbagai solusi, termasuk penyediaan kendaraan pengangkut daging agar distribusi tetap lancar dari Oso Wilangun. Tapi mitra jagal tetap bersikeras ‘harga mati’, tidak mau pindah,” ujarnya.

Faridz menambahkan, dalam pertemuan mediasi ketiga, perwakilan paguyuban memilih walk out sebelum pembahasan selesai, meski semua instansi terkait hadir memberikan penjelasan.

Meski pembangunan lokasi baru tetap berjalan, DPRD menegaskan akan mengawal proses transisi, agar pedagang dan jagal tidak dirugikan.

“Kami akan terus memfasilitasi dan mencari solusi agar relokasi ini berjalan baik bagi semua pihak,” kata Faridz.

Di balik teriakan dan spanduk, terlihat wajah lelah namun tegar para jagal Pegirian, yang setiap pagi menimbang hidup dari daging sapi yang dipotong dengan tangan mereka sendiri. Relokasi memang sebuah kebijakan, tapi di mata mereka, Pegirian adalah nyawa yang harus tetap hidup, turun-temurun.

Penulis: Subki

Share This Article